Jumat, 28 Februari 2014

PKS DENGAN FENOMENA Rp 100.000,.NYA

Seorang guru mengangkat uang 100 ribu rupiah di depan murid-muridnya. Lalu ia bertanya: "Siapa yang mau uang ini?"
Semua murid mengangkat tangan mereka, tanda ingin.
Kemudian guru itu meremas uang 100 ribu itu dengan tangannya, dan kembali bertanya: "Sekarang siapa yang mau uang ini?"
Kembali semua murid mengangkat tangannya.


Selanjutnya ia melemparkan uang itu kelantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya, sampai uang itu jadi kotor.
Setelah betul-betul kotor oleh debu ia berkata: "Sekarang siapa yang mau?"
Tetap saja seluruh murid mengacungkan tangan mereka.
Saat itulah sang guru memasukkan pelajarannya: "Inilah pelajaran kalian hari ini. Betapapun kalian berusaha merubah bentuk uang ini tidak akan berpengaruh kepada nilainya.
Bagaimanapun kalian dihinakan, diremehkan, direndahkan, dilecehkan, dinistakan, kalian harus tetap yakin bahwa nilai hakiki kalian tidak akan pernah tersentuh. 
Ketika itu kalian akan tetap berdiri kokoh setelah terjatuh. Tanpa disadari, Kalian akan memaksa seluruh orang untuk mengakui harga dirimu.
Bila kalian kehilangan kepercayaan terhadap diri kalian sendiri dan nilainya, saat itulah kalian kehilangan segala-galanya".

Apa yang melanda PKS saat ini, utamanya berita berita tidak berimbang dari lawan-lawan politik PKS yang menguasi media mainstream, hanya memaparkan, memberitakan keburukan tanpa pernah memberitakan kebaikan, bukan hal yang harus ditangisi dan diratapi, bekerjalah... Jangan pernah takjub dengan kualitas pencitraan semu, jangan menjadi kecil hati karena kurang tenar.
Masyarakat tahu kualitas Anda semua, kualitas kalian di dewan, dunia kerja, di lembaga-lembaga yang kalian tangani, pengajian-pengajian yang kalian asuh, dan dimanapun lingkungan yang kalian pijak, kualitas kalian tak terbantahkan. 
Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah.

Kamis, 27 Februari 2014

JANGAN PILIH CAPRES dan PARPOL DIKEPUNG KORUPTOR, NANTI MUNCUL REZIM KORUPTOR


JANGAN SALAH PILIH LAGI dalam menentukan caleg dalam pemilu April 2014 nanti, sebuah hitung-hitungan Matematis dapat membantu kita dalam menentukan pilihan pada pemilu nantinya.

Sejumlah parpol juga telah mendeklarasikan Calon Presiden dan Wakilnya. Namun begitupun KALAU ALEGnya korupsi Pastilah Tak bisa berharap sama Capresnya. Karena CAPRES yang dikepung Koruptor NANTINYA akan menjadi Rezim Koruptor. Ini sudah menjadi keniscayaan di negeri ini, sejak zaman Megawati hingga SBY, koruptor-koruptor yang ada disekeliling presiden terbukti ampuh dalam menambah deretan prestasi buruk para presiden.

Berikut ini beberapa Capres dan Kandidat Capres/Cawapres yang telah di deklarasikan beberapa Parpol.


1. JOKO WIDODO
2. PRABOWO SUBIANTO

3. WIRANTO

4. ANIS MATTA

5. TIFFATUL SEMBIRING

6. HIDAYAT NUR WAHID

7. AHMAD HERYAWAN

8. DAHLAN ISKAN

9. GITA WIRYAWAN

10. MEGAWATI SP

BABI DIJADIKAN LABEL HALAL, MUI: TEMPO, MEDIA ANTI ISLAM


Akhirnya MUI Sadar Bahwa Tempo Media Anti Islam: Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebutkan, kreator dan penulis yang terkait dalam laporan utama Majalah Tempo edisi terbaru anti-Islam.

Setidaknya MUI menyebutkan ‘anti Islam” ini dalam dua dari sembilan butir klarifikasinya terhadap laporan utama Majalah Tempo, edisi 24 Februari - 2 Maret 2014. Kami menerima klarifikasi MUI itu pada Rabu (26/2).

Butir 1:

Cover dengan Judul “ASTAGA LABEL HALAL”. Petinggi Majelis Ulama Indonesia ditengarai memperdagangkan Label Halal. Tempo melacak hingga Austrlia dan Belgia. Dengan Gambar Makanan Kaleng Bergambar Babi yang dicap logo Halal MUI, sangat menyakitkan umat Islam yang membacanya. Ditambah lagi dengan karikatur Binatang Babi “ada cap Haram Bos”, dan kotoran sapi dimasukan ke dalam kaleng yang bertuliskan MUI, maka lengkaplah tuduhan kepada MUI yang dianggap memperdagangkan label Halal. Kreasi Tempo melecehkan umat Islam dengan menuduh MUI mempermainkan label Halal hanya dibuat oleh pihak tertentu yang anti Islam.

Butir 8:

Dan lebih dari itu Tempo telah menulis dengan narasi dan karikatur yang sangat menyakitkan hati ulama dan umat Islam sepertinya penuh kebencian terhadap MUI yang seperti itu hanya ditulis oleh orang anti Islam

MUI Nyatakan Sertifikasi Halal Harus Bersifat Wajib: Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan sertifikasi halal harus bersifat wajib atau mandatory. Direktur LPPOM MUI Lukmanul Hakil mengatakan, saat ini Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal (RUU JPH) masih alot membahas tiga poin penting.

"Satu, sifat sertifikasi apakah mandatory atau voluntary. Saat ini masih dalam proses pembahasan, Kemenkes malah bilang haram (industri farmasi) disertifikasi. Itu yang baner-benar bikin perdebatan terus," kata dia di Kantor MUI, Jakarta, Rabu (26/2/2014).

Adapun poin kedua, lanjut Lukman, mengenai otoritas yang melakukan pemeriksaan, audit, memutuskan fatwa, dan mengeluarkan sertifikasi halal. Ketiga, adalah bentuk kelembagaan MUI, apakah di bawah presiden atau Kementerian Agama.

"Saya belum tahu perkembangan (RUU JPH) dan karena belum ada undangan lagi. Tapi sikap kita tetap, sertifikasi itu mandatorydalam rangka perlindungan konsumen. Kalau (sifatnya) voluntaryya tidak perlu ada undang-undang itu," kata Lukman.

Adapun untuk otoritas, ia menambahkan, seharusnya tetap dilakukan oleh MUI. Selain itu, bentuk lembaga MUI pun diharapkan langsung di bawah tanggung jawab presiden.


Sumber: bangkapos http://dlvr.it/51pY5C

Sumber: inilah http://dlvr.it/51pY5L

http://www.dakwatuna.com/2014/02/26/46880/karikatur-babi-dan-label-halal-mui-di-tempo-lecehkan-umat-islam/#ixzz2uRFJQb2x

Rabu, 26 Februari 2014

ELEKTABILITAS JOKOWI TERJUN BEBAS DAN DIBOIKOT MEDIA

Kritik terhadap kegagalan pemprov DKI makin bersuara lantang, media menghentikan pencitraan 'lebay' yang biasa dilakukan terhadap gubernur Jakarta Joko Widodo. Para Jasmev bin Projo/Pro Jokowi (pendukung bayaran di sosial media ) tidak kuasa menahan serbuan kritik terhadap Jokowi, mereka yang selama ini mem-bully para pengkritik Jokowi seakan kena batunya.

Banjir yang tiada henti-hentinya melanda Jakarta dalam sebulan terakhir, membuka mata bahwa prestasi Jokowi selama ini adalah pencitraan semu. Jokowi gagal memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, bukan hanya kegagalan mengurangi dampak hujan dan banjir kiriman, namun juga gagal dalam melakukan pelebaran dan pendalaman beberapa sungai di Jakarta, gagal menangani penumpukan sampah yang menghalangi kelancaran lalu lintas air, gagal menangani masalah pengungsian. Efek ini terlihat jelas dalam publikasi survey LSN beberapa hari terakhir bahwa 71,2 % masyarakat Jakarta tidak setuju Jokowi mencalonkan diri sebagai Presiden pada pilpres 2014.

Satu demi satu pencitraan Jokowi terbuka terang benderang dalam pandangan publik, apalagi semenjak beberapa pemimpin daerah penyangga Jakarta (Bogor, Bekasi dan Depok) bersama-sama mendatangi salah satu TV swasta nasional dan membeberkan apa yang sebenarnya terjadi, kesimpulannya pemerintahan Jokowi tak pernah silaturrahim ke tetangganya, hanya pandai menuding pada tetangga. Media Web yang biasa mencitrakan positif Jokowi pun beralih haluan. 
Rasain lhoe... kata yang biasa di bully jasmev bin projo.


Memang aneh sih kalau ada berita baik selalu diberitakan berulang-ulang dan terkesan lebay, karena rumusnya dalam pemberitaan adalah BAD NEWS is A Good News (BERITA BURUK adalah Berita Baik), karena bagi media berita buruklah yang laku dijual, maka agar berita baik naik tayang umumnya harus bayar donk, utama kalau sering-sering, kecuali memang karena sudah menjadi agenda publik maka wajib bagi media memberitakannya.



Maka akibatnya... media cenderung memburu berita buruk dan melupakan berita baek. Lihat saja di media cetak dan elektronik, berita buruk ratingnya tinggi.



Akhirnya  media tidak mampu lagi menutup-nutupi kelemahan pemprov DKI yang Jokowi telah memimpinnya sekita 1 Tahun 6 bulan ini, masa yang sangat cukup untuk membersihkan, mendalamkan sungai-sungai tersumbat dan parit-parit yang tertumpuk sampah, serta memberikan solusi kemacetan. Namun gagal dilaksanakan karena kebanyakan blusukan tanpa arti.

Jika dibandingkan tokoh lainnya, show-an dan blusukan yang dilakukan jokowi blom ada apa-apanya,
Foto Hari Indrawan Part II.

Foto Hari Indrawan Part II.

Foto Hari Indrawan Part II.

Foto Hari Indrawan Part II.

Namun karena kekuatan uang dalam mengatur pemberitaan maka jangan heran, pemberitaan jokowi melejit, maklum banyak media maju tak gentar membela yang bayar.