Tampilkan postingan dengan label LUAR NEGERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LUAR NEGERI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2015

Syiah Iran Dalang TRAGEDI MINA 2015..??



Di luar dugaan, jumlah korban meninggal tragedi Mina kali ini sangat besar, ditambah korban cidera dan luka-luka. Tampaknya ada yang tidak wajar. Kenapa?

Dahulu ketika jamarat masih sempit (tidak seluas sekarang), ketika terjadi insiden desak-desakan jumlah korban meninggal tidak sampai di atas 200 jamaah.

Petugas haji Saudi Arabia yang diturunkan sangat banyak dan sangat lebih dari cukup. Mereka sigap dan tangkas bekerja di lapangan memberikan pelayanan yang terbaik. Mereka adalah para petugas yang terlatih, professional, dan berpengalaman. Komitmen Pemerintah Saudi Arabia tidak main-main dalam memberikan khidmat terhadap Haramain dan pelayanan haji. Biaya besar dikeluarkan, berbagai saran dan masukan diterima dengan lapang dada, berbagai evaluasi dan perbaikan pelayanan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Bahkan ada departemen dan kementerian khusus yang mengatur urusan haji dan pengelolaannya. Di antara hasil nyatanya, dalam waktu 10 tahun terakhir hampir-hampir tidak terdengar ada musibah yang berarti. Tentu saja itu semua berkat karunia Allah Taala Sang Pencipta dan Pemelihara manusia beserta jagat raya ini.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pada jam yang sama dengan waktu kejadian tragedi Mina kemarin, arus jamaah memang padat, namun karena tertib dan teratur semuanya berjalan dengan lancar, termasuk jamaah haji bisa melempar jumrah dengan tertib, lancar, dan aman.

Tragedi kemarin terjadi BUKAN di jalan utama, melainkan di jalan cabang. Di tengah perkemahan resmi jamaah haji. Sebagaimana dilaporkan oleh Jubir Resmi Saudi Arabia, bahwa jalan tersebut merupakan jalan cabang, dan penumpukan jamaah dalam jumlah besar di jalan cabang tersebut BELUM PERNAH TERJADI SEBELUMNYA!!

Tempat terjadi tragedi, masih sangat jauh dari Jamarat, kurang lebih 2 Km!!

Jadi, lokasi tragedi tersebut di tengah perkemahan resmi, maka korbannya kemungkinan besar adalah jamaah haji resmi yang memiliki tenda resmi.

Jadi sekali lagi, insiden bukan di Jamarat, bukan pula di jalur utama pejalan kaki!!

Biasanya di jalan cabang ini, minim kerawanan insiden. Tingkat kepadatannya pun tidak seperti di jalur utama pejalan kaki. Kalau jamaah berjalan searah, walaupun dalam jumlah banyak, insya Allah aman dan lancar, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Maka sangat besar kemungkinan tragedi memilukan ini memang SUDAH DIDESAIN sedemikian rupa, ada orang-orang yang disiapkan untuk membuat kegaduhan dan keributan, kemudian sudah disiapkan pula statement-statement politiknya.

Jelas ada kepentingan besar untuk menjatuhkan Saudi Arabia di mata internasional. Musim haji merupakan waktu yang sangat tepat untuk membuat kegaduhan, yang dengan itu menjadi sarana sangat efektif untuk memojokkan Pemerintah Negeri Tauhid tersebut.

Fakta di lapangan membuktikan, bahwa tragedi berawal dari jamaah haji Iran yang sengaja bergerak melawan arus. Sebagaimana dilaporkan di media, pengakuan salah seorang pimpinan jamaah haji Iran, bahwa gerakan 300 jamaah haji Iran yang melawan arus sebagai sebab di balik tragedi Mina.

Iran sangat berkepentingan untuk membuat keributan pada musim haji, untuk menjatuhkan Saudi Arabia, menyusul kekalahan Syiah Hutsi di Yaman dukungan Iran, yang dengan rahmat Allah bala tentara Tauhid berhasil memukul mundur kaum Syiah Hutsi di Yaman.

Dilaporkan oleh salah satu media juga, bahwa mantan diplomat Iran mengungkap rencana intelijen pemerintah Iran untuk mempermalukan Kerajaan Arab Saudi dengan merusak pelaksanaan haji di musim ini. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan elemen-elemen ISIS dan beberapa elemen yang berada di bawah intelijen Iran.

Dinyatakan juga oleh mantan diplomat Iran tersebut bahwa pemerintah Iran telah menyepakati bahwa cara terbaik dan waktu terbaik untuk menghadapi Arab Saudi adalah ketika musim haji. Pemerintah Iran juga bersepakat bahwa kalau sekiranya tidak bisa menimbulkan keributan pada musim haji tahun ini, mereka akan kehilangan kesempatan dan harapan untuk membalas kekalahan sekutu mereka di Yaman (kelompok Houtsiyin) yang diserang oleh koalisi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi.

Mantan diplomat Iran tersebut juga menuturkan bahwa rencana ini telah dibahas dalam sebuah pertemuan, sepekan setelah bulan suci Ramadhan. Hadir dalam perencanaan tersebut adalah Ali Khamenei, beserta dengan tokoh-tokoh keamanan Iran seperti Qasem Sulaimany, Ali Akbar Wilayaty, Ali Larijani dan Alauddin Baroujerdi. Pertemuan tersebut digelar selama berjam-jam!!

Tepat sehari sebelum tragedi Mina, ketika jamaah Haji kaum muslimin sedang khusyu’ melaksanakan ibadah wuquf di Arafah, sebuah akun Facebook milik Hassan M Assegaf menebar provokasi melakukan pergerakan. Yang ternyata isi tulisan di facebook milik Irancorner Hassan M Assegaf itu SAMA PERSIS dengan isi akun resmi IJABI Pusat, juga diposting sehari sebelum tragedi Mina!!

Patut kita renungkan:

Bertahun-tahun pemerintah Saudi Arabia memberi pelayanan dengan tanpa ada insiden, pernahkah ada yang memberi apresiasi? Terkhusus negara Iran, pernahkah mengungkapkan penghargaan dan rasa terima kasih pada saat musim-musim haji yang telah lalu yang berlangsung sangat tertib dan khidmat? Tapi, mengapa begitu ada musibah, negara Iran tidak menampakan keinginan membantu pemerintah Saudi bahkan berlaku murka kepada pemerintah Saudi. Itu ditandai dengan kecaman Ali Khameini terhadap pemerintah Saudi.

Ada apa dibalik ini semua??

Mana suara kaum liberal, Syiah, dan orang-orang berpenyakit hatinya kala pemerintah Saudi bertahun-tahun mampu dan sangat perhatian terhadap keberlangsungan ibadah haji dengan penuh khidmat? Adakah mereka mengapresiasi pemerintah Saudi? Walaupun, penulis yakin, pemerintah Saudi sendiri tidak mengharap pujian dan sanjungan dari negara dan atau individu manapun.

Tahun ini pun, pelayanan pemerintah Saudi Arabia terhadap Jamaah Haji tidak ada yang berkurang, bahkan makin meningkat sebagaimana diakui oleh para jamaah Haji.
Namun tidak ada seorang pun yang bisa melawan Kuasa Allah. Dengan Hikmah dan Keadilan-Nya, Allah menghendaki terjadinya Tragedi ini.

Sungguh bertentangan dengan agama dan akal yang sesat, apabila tragedi ini dijadikan alasan untuk memojokkan dan menjatuhkan Saudi Arabia, seraya melupakan berbagai jasa baik yang sangat banyak, bahkan lupa atas kekuasaan dan keadilan Allah??

Mari kita turut andil membela al-haq dari serangan kuffar, munafiqin, dan para pembenci negeri tauhid. Ingat, kita membela Saudi bukan karena mereka semata-mata Saudi. Tapi kita membela Saudi karena mereka SATU-SATUNYA negara di dunia yang menjadikan Alquran dan as-Sunnah sebagai undang-undang. 



*) Disarikan dari Web Minhajin Anbiya


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/09/27/75017/soal-mina-syiah-iran-dalangnya-dan-saudi-jadi-korbannya/#ixzz3n1NHTKV1 

Kejahatan Syiah di Balik Duka Mina 1436 H

Tragedi Mina yang terjadi kemarin (24/9) mengejutkan banyak pihak. Setelah sebelumnya badai pasir dan hujan lebat menyebabkan jatuhnya alat berat yang menewaskan seratusan jiwa, kini lebih dari 700 nyawa melayang dalam tragedi Mina. Angka korban tewas ini menjadi jumlah terbesar kedua dalam penyelenggaraan ibadah haji khususnya di Mina dalam kurun waktu 30 tahun terakhir setelah tragedi Mina 1990 yang menewaskan 1426 jiwa.

Dunia Islam tersentak. Namun kali ini ada yang berbeda dengan tragedi Mina 1990. Kini alur informasi begitu cepat tersebar, baik yang valid maupun yang tak jelas sumbernya. Media sosial mengambil peran utama dalam hal ini. Hanya berselang satu hari bermunculanlah siaran-siaran pesan yang menbahas tragedi Mina kali ini. Media-media televisi—apalagi cetak—jauh tertinggal dengan tersebarnya kabar melalui media sosial.

Akibat dari tersebarnya berbagai siaran pesan tersebut, informasi tentang tragedi Mina mulai bergeser dari doa dan data korban tragedi menjadi berkembang dan cenderung liar ke arah siapa yang layak disalahkan dalam tragedi ini. Bermunculan spekulasi, dan jika ditarik garis pemisah opini yang berkembang ke arah Saudi versus Iran.

Beberapa pihak menyebarkan informasi bahwa penyebab utama tragedi Mina ini adalah jamaah haji asal Iran yang tidak tertib dalam mengambil jalur perjalanan. Sementara pihak pro Iran mengatakan Saudi selaku penyelenggara tidak becus mengatur pelaksanaan rangkaian ibadah haji di Mina. Ditambah bumbu penyedap dimana konon sebagian jalan ditutup karena putra mahkota ingin melalui jalan tersebut sehingga menyebabkan penumpukan jamaah haji dari dan akan menuju lokasi jumrah Aqabah.

Terlepas dari berbagai spekulasi yang berkembang melalui media sosial, ada yang menarik dari “perang” opini yang terjadi pasca tragedi Mina sehari lalu. Pihak-pihak yang gencar melakukan protes keras kepada kerajaan Saudi Arabia sebagai penyelenggara dan penanggungjawab ibadah haji adalah Iran dan pihak-pihak yang pro terhadap mereka.

Media-media pro Iran pun gencar membentuk opini sedemikian rupa yang mengarah kepada kesimpulan bahwa Saudi-lah biang keladi dari tragedi Mina. Opini dari kubu pro Iran pun semakin renyah karena dibalas dengan pihak-pihak anti Iran. Pada akhirnya, ide internasionalisasi Mekkah dan Madinah pun kembali dikemukakan oleh kubu pro Iran.

Ide internasionalisasi Mekah dan Madinah bukanlah barang baru. Pada dekade 80-an ide ini pernah dipopulerkan oleh pemimpin spiritual tertinggi Syiah sekaligus pemimpin revolusi Iran, Khomeini. Khomeini meminta agar pengelolaan dua kita suci umat Islam itu dikelola oleh Komite Islam Internasional dan tidak dibawah pemerintah Kerajaan Saudi Arabia. Seruan Khomeini ini pun berujung kepada tragedi Mekah pada 1987 dimana 400 lebih warga Iran tewas setelah membuat kerusuhan di Mekkah. Berbagai kalangan menilai insiden Mekah 1987 itu akibat dari provokasi dari Khomeini.

Kembali ke tragedi Mina kemarin, berbagai opini gencar disuarakan kepada para pendukung Iran. Mereka menyuarakan bahwa Saudi adalah pihak yang tidak becus menjadi penyelenggara haji, dan sudah saatnya pengelolaan dua kota suci umat Islam di-internasionalisasi. Ide Khomeini pun kembali dimunculkan, walau tanpa menyebut sang empunya.

Dengan kata lain politisasi tragedi Mina menjadi isu Iran versus Saudi menjadi terdengar sumbang, ada pihak yang memang sengaja menginginkan isu ini kembali mengemuka. Setumpuk kepentingan di balik isu internasionalisasi dua kota suci pun terasa. Mulai dari kepentingan politik, ekonomi dan hegemoni dunia Islam terlihat.

Iran yang notabene menganut agama Syiah sangat berkepentingan dengan ide internasionalisasi. Selain mereka melanjutkan ide Khomeini, tentu mereka juga berkepentingan untuk mendelegitimasi Saudi sebagai rival mereka dalam pertarungan geopolitik Timur Tengah plus kekuatan pengaruh di dunia Islam.

Jika boleh sedikit berandai-andai, tidak ada jaminan penyelenggaran haji dan pengelolaan dua kota suci menjadi lebih baik jika dialihkan dari tangan Saudi Arabia. Justru tantangan kompleks akan menanti dengan terlibatnya sejumlah pihak dalam mengaturnya. Kita perlu juga menyadari mengatur 1.355.000 jiwa ditambah 48.000 jamaah haji domestik— berasal dari budaya yang berbeda, bahasa yang berbeda—dalam satu titik yang sama tidaklah mudah,.

Menyalahkan pihak penyelenggara, dalam hal ini Saudi Arabia seperti opini yang beredar, tak lepas dari aroma kebencian Iran (penganut Syiah) pada Saudi Arabia dan merekapun selalu bernafsu untuk melepas dominasi Saudi pada dua kota suci. Iran yang Syiah punya hajat untuk menguasai dua kota suci dan tentu tujuan mereka tidak perlu dirinci disini, yang pasti mereka adalah aliran sesat yang merusak. Kita pun tahu apa jadinya jika Iran yang syiah turut andil mengelola dua kota suci.

Namun terburu-buru menyalahkan jamaah asal Iran sebagai penyebab tragedi Mina juga perlu dikoreksi, mengingat tragedi ini bukan baru satu kali, apakah kita mau menyimpulkan bahwa seluruh tragedi di Mina sejak kurun 30 tahun belakangan selalu disebabkan oleh jamaah Iran? Tentu ini kesimpulan yang berlebihan.

Kita tidak boleh terbuai dengan pertarungan opini yang terjadi, ingat hasil investigasi terkait tragedi Mina belum diumumkan, mari kita sama-sama bersabar untuk mendapatkan informasi akurat seputar penyebab tragedi tersebut dari sumber-sumber yang bertanggungjawab.

Terkait internasionalisasi pengelolaan dua kota suci, selama dikelola oleh umat Islam (bukan Syiah bukan pula PBB serta pihak mana pun di luar Islam) dan tak ada syariat yang diubah dalam praktik ibadah haji selama ini, maka semua pintu yang diyakini akan membawa kebaikan bersama, syariat Islam senantiasawelcome.

Penulis: Usyaqul Hurr

Sabtu, 25 Oktober 2014

Ditindas Umat Buddhis, 8.000 Muslim Rohingya Lari dari Myanmar

Putus asa akibat derita tak kunjung usai akibat penindasan mayoritas Buddhis, sekitar 8.000 Muslim Rohingya melarikan diri dari kamp-kamp pengungsi di negara bagian Rakhine dalam dua pekan terakhir.

Chris Lewa, direktur Arakan Project dalam laman berita Inilahcom, mengatakan rata-rata 900 orang per hari menaiki kapal kargo yang tertambat di lepas pantai negara bagian Rakhine. Situasi ini berlangsung sejak 15 Oktober, dan diperkirakan akan terus berlanjut pada hari-hari berikut.

Tidak jelas ke mana mereka akan pergi. Mereka tidak mungkin ke Bangladesh, negara nenek moyang mereka, karena negara itu akan menghalau mereka kembali ke laut. Yang paling realistis adalah ke negara-negara Asia Tenggara dan Australia, meski mereka tahu hanya akan menghuni kamp pengungsi jika tertangkap.


Lewa mengatakan eksodus super nekad dipicu oleh serangan-serangan masyarakat Buddhis dalam beberapa hari terakhir. Diprovokasi para biksu, Rakhine Buddhis membakar kamp-kamp pengungsi Muslim Rohingya dan membunuh penghuninya.

Ratusan dari 140 ribu pengungsi kamp menemui ajal, tapi luput dari pemberitaan media. Kampanye agresif yang dilakukan otoritas negara bagian Rakhine membuat semua kebiadaban itu tak terungkap.

Orang Rakhine Buddhis menyebut mereka Bengali. Sebagai Bengali, Muslim Rohingya tidak memiliki hak hidup di sudut mana pun di Myanmar. Muslim Rohingya adalah penduduk ilegal, namun membunuh atau mengusirnya adalah legal.

Menurut Lewa, tujuan pelarian Muslim Rohingya saat ini adalah Thailand. Padahal, masih menurut aktivis hak asasi manusia itu, nasib mereka tidak akan lebih baik ketika tiba di Thailand.

"Di Thailand, mereka menghadapi kemungkin dideportasi atau menjadi korban perdagangan manusia," ujar Lewa. "Negara lain yang menjadi tujuan pelarian adalah Nepal dan India."

Salah satu Muslim Rohingya yang dihubungi ASSOCIATED Press mengatakan ribuan lainnya bersembunyi di desa-desa selama berminggu-minggu, untuk menghindari verifikasi paksa. Yang tak beruntung, dan diseret dari persembunyian, habis dipukul dan disiksa.

Khin Maung Win, dari Rohingya Solidarity Organization, mengatakan pemerintah Myanmar juga menangkap puluhan orang dengan tuduhan kepemilikan senjata dan anggota organisasi radikal Muslim.

"Penangkapan terjadi di kot Maungdaw. Satu orang tewas dan lainnya luka saat diinterogasi," ujarnya.

Win Myaing, juru bicara negara bagian Rakhine, menyangkal adanya penangkapan dan penyiksaan.

PBB menyebut Muslim Rohingya sebagai minoritas paling teraniaya di dunia. Namun, tidak pernah ada upaya komprehensif untuk mengakhiri penderitaan mereka.

Lewa memperkirakan sekitar 86 ribu Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar dalam dua tahun terakhir, atau sejak kekerasan komunal melanda negara bagian Rakhine. Ribuan lainnya tewas akibat kelaparan, dan yang bertahan hidup dalam kemiskinan total. [gie/islamedia]

Sabtu, 15 Februari 2014

WAWANCARA DENGAN 3 JENDERAL NATO, USA TAKUT GEMPUR NKRI

Pukul 04.00 WIB atau jam 05.00 waktu TEXAS USA , ada suatu yang istimewa dalam acara TALK SHOW di TV ABC 13 TEXAS. Acara tersebut bekerjasama dgn Universitas Dallas TEXAS. Karena dalam wawancara tersebut dihadirkan narasumber yg cukup
kompeten. Tapi yang menarik acara tersebut justru menyangkut militer Indonesia.

TALK SHOW di TV ABC 13 TEXAS menghadirkan para jenderal
purnawirawan USA n BRITISH... tapi ada seorang mahasiswa
Universitas Dallas bertanya tentang penempatan MARINIR USA di
AUSTRALIA. Maka jawaban dari Jenderal tersebut cukup mencengangkan buat 
semua pemirsa ...

TALK SHOW di TV ABC 13 TEXAS antara lain dihadiri: 
1. Jenderal (purn) Mike Jackson (pemimpin pasukan Inggris saat menyerbu Irak) 
2. Jenderal (purn) Tommy Franks (pemimpin DELTA FORCES saat OPERASI BADAI GURUN) 
3. Jenderal (purn) Peter Pace (mantan JENDERAL US MARINE
dan
KEPALA STAF GABUNGAN US)

Mahasiswa dari Univ Dallas bertanya : apa penempatan US
MARINE berindikasi akan serangan USA ke Indonesia suatu
saat nanti?

Jend. Peter Pace : "saat ini ada 3 besar kekuatan MARINIR dunia dan Indonesia berada pada posisi ke 3. Penempatan US MARINE hanya utk menjaga STABILITAS kawasan di ASIA TENGGARA.
Jangan bermimpi USA berencana menyerang Indonesia meski USA
pimpinan NATO. Tidak pernah terpikir oleh pemimpin USA utk
menyerang Indonesia".
Presenter TV ABC 13 TEXAS, HANNAH menambahkan pertanyaan USA pernah terlibat konflik di kawasan ASIA TIMUR JAUH... Kenapa Indonesia begitu diperhitungkan?
Jend.Tommy Franks menjawab, "Kita pernah punya pengalaman pahit di VIETNAM dan KOREA, dan semua pemimpin USA sadar siapa dibalik ke 2 negara ASIA yang pernah terlibat konflik dengan kita. Indonesia adalah guru bagi VIETNAM dan KOREA UTARA saat berperang melawan USA."
Jend. Peter Pace menambahkan, "Kita sering berlatih dengan Indonesia...kita sadar bagaimana kemampuan pasukan khusus Indonesia, pasukan kita sering kewalahan dalam setiap latihan perang dengan Indonesia".
Jend. Tommy Franks "Saat operasi pembebasan sandera di
pesawat yang dibajak di Bangkok Thailand, DELTA FORCE
memantau operasi tersebut, tapi yang tidak dimiliki oleh pasukan negara lain dalam pendidikan pasukan KHUSUS adalah Anda akan terkejut bila mendapati satu mata pelajaran yang takkan didapat di pendidikan elite militer manapun, yakni pendidikan penaklukkan makhluk halus"
.
Jend.Mike Jackson menjelaskan, "DOKTRIN militer Indonesia sudah dipakai di beberapa negara ASIA bahkan AFRIKA karena Indonesia memang diminta melatih beberapa negara ASIA
dan AFRIKA. Meski Indonesia kekurangan senjata tidak mungkin mudah menaklukkan Indonesia karena jika perang terjadi bukan hanya militernya yang maju perang tapi rakyatnya juga pasti turut membantu untuk menghabisi lawan. SAS sudah pernah merasakan saat berhadapan dengan aliansi tentara Indonesia dan rakyat Indonesia. Jadi jangan pernah anggap ringan dengan Indonesia,"
ungkap Jenderal Mike Jackson.

Seorang mahasiswi juga bertanya tentang kekuatan ASIA dimata MILITER INTERNASIONAL... apa jawab mereka? 
Lagi-lagi Indonesia menjadi sorotan. Jend. Mike Jackson menjelaskan, "Indonesia dalam waktu dekat akan jadi sebuah
negara yang militernya sangat besar dan sulit tertandingi".

Jend. Peter Pace menjelaskan, "Indonesia memiliki semuanya dan kalau itu diopersionalkan maka Indonesia akan melampaui India dan Cina dalam perkembangan militer".

Jend. Tommy Franks menambahkan, "Sebagai orang yang pernah memimpin pasukan khusus, saya tahu banyak rahasia teknik militer yang tidak ditunjukkan dalam latihan perang bersama. Kalau saat ini banyak negara terutama yang tergabung dlm NATO mengadakan hubungan dagang militer dengan Indonesia, itu sebuah kebijakan yang tepat, karena kalau tidak akan sangat membahayakan posisi NATO di ASIA, karena Indonesia memiliki konsep NON BLOK. Kedepan saya harapkan tidak ada sanksi atau embargo yang dijatuhkan kepada Indonesia, karena itu dpt menimbulkan kerawanan dikawasan ASIA terutama LAUT CINA SELATAN. Utk urusan LAUT CINA SELATAN, Indonesia adalah kunci kita. Kalau USA tidak berhati hati memegang kunci tersebut maka dampak besar akan dirasakan oleh sekutu kita dikawasan itu".

Dalam akhir acara Jend.Tommy Franks mengungkapkan, "ada 1
pasukan khusus Indonesia yang jarang mengadakan latihan
bersama yaitu AU. Pasukan khusus AU Indonesia adalah satu
satunya pasukan dengan kualifikasi Korps Pasukan Khas TNI-AU di Asia dan terlengkap di dunia." Meski USA juga memiliki pasukan serupa dalam beberapa satuan tp kelengkapannya tdk mampu mengalahkan pasukan khusus AU Indonesia"
ujar Jend.Tommy Franks.



Sumber: https://www.facebook.com/pages/Special-Force-Indonesia/1406496522905320?ref=stream

Kamis, 13 Februari 2014

RUSIA AKAN BANTU INDONESIA JIKA DIKEROYOK SINGAPURA dan SEKUTUNYA



Memanasnya hubungan antara pemerintah Republik Indonesia dengan Singapura-Australia-Papua New Guenea membuat Duta besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Yurievich Galuzin angkat bicara, kepada TVRI saat ditemui di kantor kedutaannya di Jakarta mengatakan, Indonesia itu adalah negara sahabat kami, sahabat yang telah lama menjalin hubungan baik. Tahun 2013 lalu adalah puncak keakraban Indonesia-Rusia, Indonesia membeli berbagai senjata dan peralatan dari Rusia, pesawat tempur, rudal, dan beberapa senjata perang lainnya yang tidak dipublikasikan dan Rusia menghargai itu.

Terkait hubungan yang memanas antara Indonesia dan Singapura, Mikhail mengatakan: “Rusia akan terus mengikuti perkembangannya. Hal terburuk jika akhirnya terjadi perang antara Singapura dan Indonesia, Rusia tidak akan khawatir sama sekali, sebab Singapura hanya melihat senjata milik TNI yang dipublikasikan sementara tidak mengetahui senjata TNI yang menjadi bagian rahasia operasi. Tapi Rusia tau betul kekuatan Indonesia saat ini, Indonesia bukan tandingan Singapura.” Namun ia menegaskan, jika terjadi penyerangan bersama sekutu (AS, Inggris, Malaysia, PNG, dan Australia) tanpa diminta maka Rusia tau apa yang harus dilakukan untuk sahabat kami Indonesia, ini sikap resmi pemerintah Rusia.

Dia melanjutkan: “Jika Indonesia menghadapi sebuah persekutuan maka Rusia adalah sahabat Indonesia yang akan melakukan tugas sebagai sahabat baik yang tidak akan membiarkan sahabat nya diserang dalam sebuah ketidakadilan, Indonesia adalah sahabat kami yang tempatnya lebih tinggi dari sebuah sekutu. Dan tentu kami akan melakukan hal yang lebih dari apa yang kami lakukan terhadap sekutu kami, melindungi dan membantu sahabat adalah idiologi kami (Rusia).”

(TVRI LIVE dialog wartawan Endang Susanti di kantor Kedubes Rusia)



Sumber: Официальная учетная запись Посольства России в Индонезии @FN
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=14657&type=8#.Uvyt0mKSxiy