Jumat, 18 April 2014

BODOH KALAU TAK KOALISI DENGAN PKS

Konstelasi politik pasca Pileg 2014 didominasi usaha masing-masing capres untuk mencari mitra koalisi. Meski suara hasil Pileg 2014 belum ditetapkan KPU, namun hasil Quick Count (Hitung Cepat) menyimpulkan bahwa tidak ada parpol yang bisa mencalonkan sendiri calonnya pada Pilpres 2014 ini tanpa melakukan koalisi.

Berbagai pertimbangan tentunya dilakukan dalam memilih mitra koalisi. Selain Faktor idiologis, komitmen menjalin kebersamaan, dan tentu saja cost (biaya) politik. 

PKS adalah salah satu parpol yang sangat dipertimbang oleh para capres dalam mencari mitra koalisi. Setidaknya 2 orang capres telah melakukan komunikasi intensif, yaitu ARB dan Prabowo Subianto. Hal ini wajar, meski dalam hitung cepat suara PKS stagnan diposisi 6,9 % namun ada indikasi suara PKS lebih besar dari hasil Hitung Cepat, bahkan DPP PKS telah meng-klaim 57 (10,5%) kursi DPRRI mereka di 2009 telah aman. Suara PKS meningkat beberapa ratus persen pada basis yang sebelumnya bukan menjadi PKS seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan NTB.

Lawan-lawan politik pun sangat menggantungkan dirinya terhadap kesaksian para saksi PKS yang memiliki data lengkap, bahkan di beberapa tempat terjadi perampokan form C1 oleh orang tidak dikenal terhadap kader PKS.

Jika dibanding PPP, PAN,  maupun PKB Kader PKS terdisribusi normal diberbagai ormas Islam semisal; Muhammadiyah, Al-Washliyah, NU, Tarbiyah Islamiyah, Persis, Al-Ibtidaiyah, Hizbul Wathan, bahkan beberapa Kyai NU juga telah berafiliasi dengan PKS, serta berbagai Gerakan Islam Modern lainnya.

PKS terkenal kesolidan para kadernya, Hanya bermodal SMS (Short Message Service), Kader PKS bisa diperintah untuk memaksimalkan (all Out) instruksi Qiyadah (pemimpin) mereka, hal ini akan beda dengan parpol lain yang cenderung tidak punya sistem kaderisasi dan jalur komando sebaik PKS.

Mengapa demikian? Karena kader PKS disebut dengan istilah jundi (tentara), pemimpin mereka menyebut kadernya Jundullah (tentara Allah), inilah yang membuat mereka solid, sehingga tidak heran kalau mereka mampu mempertahankan jumlah kursinya.

Sangat wajar kalau para kandidat Capres riuh melakukan lobi intensif terhadap Partai yang lolos dari badai LHI ini. Dengan jaminan biaya murah dan kader yang solid, maka bodoh kalau ada Capres yang tidak mau berkoalisi dengan PKS.