Selasa, 03 Juni 2014

BENARKAH, JOKOWI CAPRES TIPU-TIPU..?

Pemirsa televisi disuguhi tayangan film rekayasa yang memperlihatkan Jokowi-JK seolah-olah sedang makan bersama wong cilik (rakyat kecil). Memang untuk kepiawaian dalam merekayasa ‘pencitraan’ bagi pasangan capres/cawapres, sepantasnya kita layak memberi acungan jempol kepada tim sukses Joko Widodo-Jusuf Kalla. Seakan tak ada habis-habisnya ide tim sukses Jokowi-JK dalam upaya memoles citra jago unggulan mereka agar terlihat “wah” dan“wow” di mata masyarakat calon pemilih pada pilpres 2014.

Soal suara sumbang dari banyak kalangan yang mengatakan bahwa ‘pencitraan’ itu sejatinya adalah penipuan terorganisir terhadap rakyat, tak usah dihiraukan. Bak peribahasa “Anjing Menggonggong Kafilah Tetap Berlalu” pencitraan terhadap Jokowi pun ternyata masih terus dilakukan, dan berlangsung dari sejak Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Solo sampai sekarang.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jokowi saat melakukan “blusukan” ke pasar-pasar, ke lokasi banjir dan lain sebagainya ‘tak pernah tanpa wartawan’. Melainkan selalu diikuti dan diliput oleh puluhan wartawan dari berbagai media TV, cetak dan online yang sengaja diajak untuk memberikan full covering demi untuk menciptakan citra positif dan merakyat bagi seorang Jokowi.

Kreatifitas timses Jokowi tak hanya piawai dalam mengemas berita blusukan Jokowi saja. Bahkan kini, saat Jokowi-JK maju sebagai pasangan capres/cawapres didukung oleh PDIP, Nasdem, PKB, Hanura dan PKPI, tim sukses Jokowi nampak semakin kreatif saja dalam membuat berita pencitraan.

Salah satunya adalah saat tim sukses Jokowi-JK membuat syuting film yang ingin menunjukkan kepada masyarakat calon pemilih bahwa pasangan ini merakyat dan dekat serta perduli dengan wong cilik. Maka dibuatlah syuting film yang bertema Jokowi-JK Makan Bersama Wong Cilik. Berikut ini adalah adegan syuting film tersebut yang tertangkap oleh kamera foto:

Persiapan syuting film “Jokowi-JK Makan Bersama Wong Cilik”

Jokowi-JK sudah siap makan bersama Wong Cilik
[KabarNet/adl]

DILUAR KESEDERHANAAN ITU Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier (INACA) Tengku Burhanudin memperkirakan tarif sewa pesawat Boeing 737-900 Batik Air yang digunakan Joko Widodo berkisar Rp 120-150 juta per jam. “Namun angka itu tak pasti karena tergantung berbagai hal lainnya,” ujarnya ketika dihubungi, Ahad, 4 Mei 2014. (Baca: Hari ini, Jokowi Temui Ulama Jawa Tengah)
Sewa Pesawat Jokowi Diprediksi Rp 150 Juta per Jam  
Ia menjelaskan tarif sewa atau carter pesawat terbang akan berbeda-beda berdasarkan sejumlah faktor. Beberapa hal di antaranya jenis pesawat yang digunakan, posisi atau kota keberangkatan, kota tujuan penerbangan, posisi pesawat sebelum penggunaan, maupun durasi pesawat menunggu sebelum kembali terbang. (Baca: Ketepatan Terbang Batik Air Paling Tinggi)

Tiap maskapai penerbangan, menurut Tengku, juga mempunyai perhitungan masing-masing mengenai besaran biaya yang ditetapkan kepada penyewa dalam penggunaan pesawat. Soal jumlah kapasitas penumpang yang dapat terangkut pun dapat menjadi variabel tertentu dalam memperhitungkan penawaran sewa pesawat.

Begitu juga durasi menunggu oleh pesawat. Tengku mencontohkan, jika pesawat menunggu lebih dari satu jam, penyewa biasanya dapat dikenakan biaya ekstra 20-40 persen dari tarif sewa. “Tapi tarif juga bisa menjadi lebih murah bergantung pada kesepakatan dan lama pemakaian yang dibutuhkan oleh penyewa,” tuturnya.

Pernyataan ini menanggapi kunjungan calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Jokowi, menemui sejumlah ulama di Jawa Timur, Jawa tengah, dan Yogyakarta dengan menyewa pesawat Boeing 737-900 milik Batik Air, Sabtu lalu. Penggunaan pesawat yang merupakan anak usaha dari Lion Air milik Wakil Ketua Umum PKB Rusdi Kirana ini sontak menimbulkan spekulasi soal koalisi di antara kedua partai.

MAYA NAWANGWULAN http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/05/04/269575258/Sewa-Pesawat-Jokowi-Diprediksi-Rp-150-Juta-per-Jam

KALAU sudah begini apa namanya yaa...? 
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar