Minggu, 18 Mei 2014

PERSEPSI BUDAYA MASYARAKAT JEPANG

PENDAHULUAN

 

Jepang adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di Benua Asia bagian timur, bertetangga dengan Rusia di sebelah barat, dengan Korea Utara dan Korea Selatan di bagian selatan dan dengan China di bagian barat daya. Jepang pernah menjadi kekuatan raksasa di bidang militer di dunia pada masa perang dunia II dan kini menjadi raksasa industri, elektronik, otomotif, dan Industri lainnya. Jepang juga memiliki tokoh-tokoh pengusaha dan pelopor industri terkemuka dunia seperti Akio Morita (pendiri Sony), Toyoda (pendiri Toyota), Yataro Iwasaki (Pendiri Mitsubishi), Konuse Matsushita (Pendiri Panazonic), Torakusu Yamaha, dan Sucaido Honda.
Pada pertengahan abad 19 Jepang masih berbentuk kerajaan feodal yang struktur sosialnya tidak pernah berubah. Sejak tahun 660 M, Jepang dipimpin oleh seorang kaisar yang turun temurun. Karena berbentuk kepulauan, negara ini terisolir dengan negara lain, bahkan kebijakan kaisar saat itu juga mengisolasi diri dari pergaulan internasional. Tahun 1636 kaisar bahkan menerapkan aturan larangan bagi rakyatnya keluar dari tanah air. Semua kapal laut dagang dari negara lain bahkan di larang berlabuh di pelabuhan Jepang.
Semua berubah ketika tanggal 8 Juli 1853 Angkatan Laut Amerika Serikat di pimpin Komodor Mattew Calbraraith Pery berlayar ke jepang dengan persenjataan lengkap membawa pesan dari Presiden AS Millard Fillmore yang mengancam Jepang agar membuka pelabuhannya. Jepang Akhirnya menandatangani perjanjian Kanagawa dan membuka secara luas negaranya bagi negara lain. Dalam bidang ekonomi, ketika Kaisar Muda Matsuhito (Meiji) tanggal 6 April 1868 melarang  semua organiasi anti asing dan memulai program modernisasi dengan mengimpor mesin dan peralatan dari Eropa yang masih mengalami revolusi industri. Dalam waktu 25 tahun Teknologi Jepang berhasil menyamai teknologi Eropa dan Amerika.
Pada abad 20 Jepang bahkan berkembang menjadi negara imperalis yang memperluas wilayah melalui peperangan. Sebelum PD II pecah, Jepang berambisi menguasai Asia Timur Raya, yaitu wilayah-wilayah meliputi Asia Tenggara, China, Asia Timur dan Smaudera Pasifik. Tahun 1904 terjadi perang besar antara Rusia-Jepang dengan kemenangan telak di pihak Jepang. Hal ini menandai pertama kali sejak Genghis khan sebuah negara Asia mampu mengalahkan kekuatan Eropa. 
Dalam Perang dunia II Jepang bersekutu dengan Jerman dan Italia dan melakukan penyerangan besar-besaran ke pangkalan angkatan laut Amerika serikat di Pearl Harbour (Hawaii) yang menyebabkan 100 pesawat Amerika rusak, 8 kapal perang AS tenggelam, dan 300 warga tewas. Serangan ini menyebabkan Amerika ikut terlibat dalam PD II dan menyatakan perang terhadap Jepang. Dalam pertempuran sengit di Samudera Pasifik, Jepang lama-kelamaan makin terdesak hingga akhirnya menyerah setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh pasukan Amerika. Setelah menyerah, Jepang menarik seluruh pasukannya dari wilayah jajahan dan membangun kembali negerinya dari kehancuran perang. Spirit, kekuatan, semangat luar biasa menyebabkan dalam waktu singkat Jepang kembali berdiri tegak menjadi imperalis namun di bidnag ekonomi. Jepang segera berubah menjadi raksasa industri dunia dari bidang otomotif, alat berat, kimia, baja, elektronik dan industri manufaktur hingga sekarang.
Menurut mitologi tradisional, Jepang didirikan oleh Kaisar Jimmu pada abad ke-7 SM. Kaisar Jimmu memulai mata rantai monarki Jepang yang tidak terputus hingga kini. Meskipun begitu, sepanjang sejarahnya, untuk kebanyakan masa kekuatan sebenarnya berada di tangan anggota-anggota istana, shogun, pihak militer, dan memasuki zaman modern, di tangan perdana menteri. Menurut Konstitusi Jepang tahun 1947, Jepang adalah negara monarki konstitusional di bawah pimpinan Kaisar Jepang dan Parlemen Jepang.
Sebagai negara maju di bidang ekonomi, Jepang memiliki produk domestik bruto terbesar nomor dua setelah Amerika Serikat, dan masuk dalamurutan tiga besar dalam keseimbangan kemampuan berbelanja. Jepang adalah anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, G8, OECD, dan APEC. Jepang memiliki kekuatan militer yang memadai lengkap dengan sistem pertahanan moderen seperti AEGIS serta skuat armada besar kapal perusak. Dalam perdagangan luar negeri, Jepang berada di peringkat ke-4 negara pengekspor terbesar dan peringkat ke-6 negara pengimpor terbesardi dunia. Sebagai negara maju, penduduk Jepang memiliki standar hidup yang tinggi (peringkat ke-8 dalam Indeks Pembangunan Manusia) dan angka harapan hidup tertinggi di dunia menurut perkiraan PBB.
Data-data Negara Jepang
Kepala Negara
Kepala pemerintahan
Perdana Menteri (Yukio Hatoyama, 16-9-2009-sekarang
Bentuk pemerintahan
Kekaisaran
Ibukota
Tokyo
Pemerintah lokal
43 Prefektur Dan 4 Kotapraja
Luas wilayah
377.930 KM2
Jumlah penduduk
127.470.000 jiwa (tahun 2010)
Suku bangsa
Jepang (99%)
Agama
Shinto (mayoritas), Islam, Budha, Kristen
Bahasa
Jepang
Mata uang
Yen
Lagu kebangsaan
Kimi Gayo
Produk Domestik Bruto
US$ 4.354,37 milyar (2008)
Pendapatan perkapita
US$ 32.817 (2009,IMF)
Hasil agraris
Beras, tembakau, buah dan sayuran
Hasil industri
Elektronik, otomotif, mesin, alat berat,farmasi, bahan kimia, manufaktur
Hari Besar
3 November 1946 (Hari Konstitusi)
Kantor berita
KYODO
Bandara Internasional
Haneda (tokyo) Narita (Tokyo)

Untuk mengenal negara ini dengan berbagai persepsi budaya yang ada di dalam kehidupan dan tatanan masyarakatnya, ada tiga elemen penting dari persepsi guna menghasilkan efek komunikasi yang diinginkan bersama di antar orang-orang yang berbeda budaya dalam hal ini adalah komunikasi dengan orang dari budaya Jepang.
Ketiga elemen tersebut adalah : Pandangan dunia, system lambang dan organisasi social (Samovar dan Porter, 2013 :11:Samover dan Porter, 1993 :13-14 : Samover,et,al, 1981:37).

A.       PANDANGAN DUNIA (GLOBAL VIEW)
1.      Agama dan Kepercayaan Masyarakat Jepang
Masyarakat Jepang mempunyai pandangan yang sangat sekuler dan tidak begitu peduli pada agama, tetapi kebanyakan orang Jepang menganut agama Shinto dan Budha. Meskipun agama tidak penting, tetapi ketika ada acara ulang tahun, pernikahan dan  pemakaman, mereka biasanya melakukan ritual keagamaan.
Pandangan Masyarakat Jepang terhadap Agama :
  Tuhan atau agama merupakan sesuatu yang terpisah. Agama adalah hal yang bersifat pribadi, dalam arti merupakan sesuatu yang tidak bisa diusik-usik oleh orang lain.
  Agama paling banyak dianut di Jepang: Shinto dan Budha
Shinto: Percaya kepada dewa, ajarannya tentang hal yag baik dan buruk
Budhist: Percaya kepada roh, ajarannya pencerahan hati dan berusaha sendiri.
  Agama Budha banyak mempengaruhi agama Shinto, terlihat masyarakat Jepang tidak ingin kehilangan ajaran aslinya, tetapi juga ingin menerima ajaran Budha sebagai ajaran baru. Kedua ajaran  ini bercampur baur yang melahirkan satu jenis ajaran yang unik, bukan dari isinya, tetapi dari cara pelaksanaannya. Banyak prilaku kehidupan bangsa Jepang yang menunjukkan pencampuran agama yang sangat tidak jelas batas-batasnya.
Contoh : Ketika lahir caranya dengan Shinto, menikah dengan cara kristen dan meninggal dengan cara Budha.
·         Agama bagi bangsa Jepang adalah bekerja dan Bangsa Jepang tidak peduli dengan faktor agama, sehingga motivasi mereka dalam membangun negaranya adalah bekerja. Rasa Patriotisme menjadi nilai yang ditekankan oleh pemerintah Jepang sebagai pengganti dari nilai yang ada pada bangsa lain tentang agama.
·         Bangsa Jepang tidak pernah memikirkan kehidupan setelah mati, karena mereka tidak percaya akan hal tersebut. Mereka akan melakukan segala-galanya untuk hidup di dunia ini, dan hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah bekerja, jadi Jepang bekerja untuk dunia. Tidak ada nilai-nilai agama yang membatasi ruang lingkup gerak mereka dalam bekerja untuk memperoleh untung yang sebesar-besarnya.

Perbedaan yang paling besar antara masyarakat Jepang dengan Indonesia adalah masyarakat Jepang tidak peduli pada agama. Beberapa hal dari masyarakat Jepang jika dikaitkan dengan Agama adalah :
1.      Dalam undang-undang dasar Jepang, pemerintah tidak boleh ikut campur dalam urusan agama. Dilarang keras memakai anggaran negara untuk hal-hal agama.
a.  Dalam pasal 20 tertulis bahwa semua lembaga agama tidak boleh diberi hak istimewa dari negara dan tidak boleh melaksanakan kekuatan politik, negara dan instansinya tidak boleh melakukan kegiatan agama dan2.  pendidikan agama tertentu. 
b.  Pasal 89 tertulis bahwa uang negara tidak boleh dipakai untuk lembaga agama
2.      Di Jepang tidak ada ruangan untuk sembahyang seperti mushala di instansi negara (termasuk sekolah), tidak ada Departmen Agama, tidak ada sekolah agama negara (seperti IAIN di Indonesia).
3.      Menurut beberapa penelitian, sekitar 70% orang Jepang menjawab tidak memeluk agama. Terutama, pemuda Jepang sangat tidak peduli agama. (Pada tahun 1996, mahasiswa yang mempercayai agama tertentu hanya 7.6%). Orang Jepang tidak peduli orang lain agamanya apa, dan kalau dia mempercayai agama tertentu, biasanya dia tidak suka memamerkan agamanya sendiri. Orang Jepang tidak ikut campur urusan pribadi orang lain, termasuk urusan agama.
4.      Di Jepang pernah orang Kristen menjadi Perdana Menteri, namanya OHIRA Masayoshi, Masa jabatannya dari tahun 1978 sampai 1980. Memang jumlah orang Kristen cuma 1% dari penduduk Jepang, tapi sama sekali tidak menjadi masalah dan sama sekali tidak mempengaruhi kebijakannya. Hal itu tidak dikatakan karena toleransi pada agama, lebih tepat disebut karena ketidakpedulian orang Jepang pada agama. Bagi orang Jepang, porno, judi, minuman keras, semua hanya sarana hiburan saja untuk menghilangkan stres. Kebanyakan orang Jepang tidak sampai adiksi/kecanduan.
5.      Etika orang Jepang tidak berdasar atas agama. Karena Jepang sangat tidak  peduli dengan agama jadi negara Jepang dipenuhi dengan porno, dilimpah dengan tempat judi, orang Jepang suka sekali minum minuman keras. Tetapi pada umumnya orang Jepang masih berdisiplin, bekerja keras, masyarakat Jepang sedikit korupsi, lebih makmur, tertib, efisien, bersih dan aman (setidak-tidaknya tidak terjadi konflik antar agama) daripada Indonesia.
·         Pengaruh negatif karena tidak begitu pentingnya agama di Jepang :
1.      Tidak adanya Kementerian Agama di Jepang
2.      Agama menjadi kemerdekaan setiap individu
3.      Timbulnya moral yang tidak bagus di Jepang
4.      Jepang akan berusaha untuk kepentingan negaranya sendiri tanpa memikirkan akibatnya terhadap negara lain di dunia ini.
5.      Akibatnya Jepang mempunyai image yang tidak baik di mata dunia.
6.      Tindakan ekonomi tanpa moral
7.      Ketika mengalami kegagalan (putus cinta, gagal ujian, gagal memimpin suatu instansi cenderung untuk bunuh  diri, dari penyebab tersebut, terbukti bahwa angka kematian akibat bunuh diri di Jepang tidak pernah menurun).
8.      Meskipun dalam  kerangka budaya Jepang, bunuh diri adalah tindakan terhormat, namun sebenarnya anggapan tersebut mencerminkan kerapuhan dalam diri bangsa Jepang akibat dari kurang adanya nilai-nilai agama yang kuat bersemayam dalam hati nurani masyarakat Jepang.

2.      Nilai dan Norma
Pandangan Umum
Dalam masyarakat Jepang, nilai yang paling menonjol adalah nilai kehidupan kelompok, baik dalam keluarga, sekolah, kelompok bermain, lingkungan pekerjaan dan aktivitas lainnya. Konsep kehidupan kelompok masyarakat Jepang Chi Nakane (dalam Yulyanti. 2007: 7) terdiri atas kerangka (frame) dan atribut (attribute) dalam posisi individu masyarakat.
Kerangka merupakan lingkungan dimana individu itu berada atau dalam kelompoknya. Sedangkat atribut dapat berarti menjadi seorang anggota dari sebuah kelompok atau kedudukan tertentu. Atribut dapat dimiliki oleh seseorang bukan hanya akibat kelahiran tapi juga bisa melalui usaha orang tersebut, misalnya menjadi dosen, guru, professor, dokter, dll. Sedangkan kerangka seperti orang yang mengajar di Universitas Tokyo atau orang yang bekerja di perusahaan Mitshubishi. Bagi orang Jepang yang penting bukanlah gelar yang dimiliki, melainkan dari mana ia menjadapatkannya. Bagi orang Jepang, kerangka lebih penting daripada atribut, karena kerangka dinilai sebagai identitas seseorang.
Masyarakat Jepang sangat menghormati harmoni; yaitu: keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dalam kelompok. Selain itu masyarakat Jepang juga menganut penilaian “atas bawah atau ranking”. Hal tersebut menimbulkan daya saing yang besar, karena setiap anggota masyarakat ingin menduduki rangking yang lebih tinggi. Nilai kerja keras dalam kelompok pun menjadi sangat penting. Setiap kelompok ingin agar kelompoknya berhasil, yang pada akhirnya juga akan menambah harga dirinya sebagai anggota kelompok tersebut (Sayidiman Suryohadiprojo dalam Yulyanti. 2007: 8).

1.      Konsep On, Giri, dan Ninjo
Ø  Nilai On (hutang budi), hutang budi yang dimaksud merujuk kepada hutang psikologis dan sosial yang dikenakan kepada seseorang atas penerimaan-penerimaan atau kebaikan yang diterima dari orang lain. Orang Jepang merasa berkewajiban membalas budi kepada orang tua, penguasa, masyarakat, dan negara. Nilai ini menyebabkan kuatnya solidaritas kelompok serta nasionalisme bangsa Jepang. Nilai On berhubungan erat dengan kewajiban untuk membalas sikap atau kebaikan yang telah diterima dari orang lain dengan setimpal, yang disebut dengan Giri (Harumi Befu dalam Yulyanti. 2007: 12).
Ø  Nilai Giri, secara harafiah diartikan sebagai kewajiban moral, yaitu sebuah kewajiban yang bersifat etis dan moral yang mengharuskan untuk bersikap seperti yang diharapkan oleh masyarakat dalam berhubungan dengan individu-individu lain, terutama dengan siapa seseorang itu menjalin hubungan khusus (Harumi Befu dalam Yulyanti. 2007: 12).
Ø  Konsep Ninjo sering sangat beririsan denga konsep Giri. Berbeda dengan giri yang merupakan kewajiban moral untuk melakukan tindakan saling berbalasan, ninjo adalah kecenderungan, perasaan, dan keinginan alamiah manusia yang tidak terikat dengan norma-norma seperti halnya giri. Apabila giri bersifat moral dan sosial, maka ninjo bersifat psikologis dan personal.
2.      Konsep Kyoudoutaino Ittasei
Ø  Di dalam kelompoknya, orang Jepang secara bersama selalu berusaha mempertahankan kesejahteraan kelompok tanpa mengutamakan keinginan-keinginan pribadi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Oleh karena itu, Kyoudoutaino Ittasei menjadi salah satu nilai yang ada dalam sistem kelompok masyarakat Jepang. Kyoudoutaino Ittasei merupakan istilah yang menggambarkan rasa bersatu dalam kerja sama untuk mencapai keberhasilan kelompok secara bersama-sama. Dalam  Kyoudoutaino Ittasei, kelompok tidak melihat kemampuan dan keterampilan khusus seseorang dalam masing-masing pekerjaannya, melainkan melihat hasil kerja yang dilakukan dan dihasilkan oleh kelompok (Eshun Hamaguchi dalam Yulyanti. 2007: 13).
Kebangkitan Jepang pasca kekalahannya dalam Perang Dunia II bukan karena keajaiban, melainkan diperoleh melalui semangat juang yang tinggi, disiplin ketat, dan kerja keras yang dilandasi atas berbagai nilai-nilai luhur. Tokugawa dan Akihiko Nakamura (2007) menyebutkan setidaknya Jepang memiliki lima nilai atau semangat yang dipegang dan dilaksanakan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, yakni: semangat bushido, disiplin samurai, budaya keisan, prinsip kai zen, dan prinsip keiretsu-zaibatsu.
1.      Semangat Bushido, Bushido itu berarti kesatria, pendekar, atau samurai. Semangat bushido ini selalu dipegang teguh dari waktu ke waktu karena bushido telah menjadi jalan hidupnya kesatria sebab ”dou” artinya hidup. Semangat bushido melahirkan proses belajar tak kenal lelah. Semangat ini semula dipelajari Jepang dari Barat. Namun kini dunia Barat yang terpukau dan harus belajar dari Jepang. Untuk itu ada tujuh nilai luhur yang senantiasa dijunjung oleh bangsa Jepang dalam menjalankan semangat bushido yakni:
a. Kejujuran
Kejujuran merupakan nilai utama yang harus dimiliki seseorang dalam bekerja sehari-hari. Sikap dan perilaku jujur akan mendapat respek yang yang baik dari orang lain.
b. Kehormatan
Seorang yang berjiwa bushido tahu sepenuhnya cara untuk menepati janji dan ini untuk menjaga kehormatan.
c. Keberanian
Seseorang harus berani mengambil inisiatif dan keputusan yang tepat, berani memanfaatkan peluang, mampu mengerjakan sesuatu dengan cara yang berbeda, berani dengan situasi baru, pantang menyerah, dan semacamnya.
d. Kesetiaan
Kesetiaan merupakan bentuk pengabdian kepada lembaga tempat seseorang bekerja baik perusahaan maupun organisasi pemerintah.
e. Kepekaan
Kepekaan adalah perasaan respek terhadap orang lain serta tidak menganggap remeh orang lain. Dari kepekaan ini timbul perasaan ingin membantu atau ingin melayani.
f. Kerendahan hati
Seorang yang rendah hati itu bukan berarti rendah diri. Rendah hati merupakan ketrampilan yang tinggi untuk merebut hati orang lain. Ia tahu kapan harus berpihak kepada siapa dan untuk apa. Bangsa yang rendah hati adalah bangsa yang mau dan mampu untuk mencari sumber inspirasi dari bangsa lain yang lebih maju.
g. Keadilan
Seseorang yang baik akan dapat berada di tengah, bertindak ramah, dan tidak bohong.
2.      Disiplin Samurai
Jaman dahulu, pahlawan Jepang yang dikenal dengan sebutan samurai akan melakukan hara-kiri atau bunuh diri dengan menusukkan pedang ke bagian perut jika kalah dalam pertarungan. Hal ini justru memperlihatkan usaha mereka untuk menebus harga diri yang hilang akibat kalah perang. Kini semangat atau disiplin samurai masih kuat tertanam dalam sanubari bangsa Jepang, namun bukan lagi melakukan harakiri. Semangat samurai digunakan untuk membangun ekonomi, menjaga harga diri dan kehormatan bangsa secara teguh.. Disiplin samurai ini telah membuat bangsa Jepang sulit menerima kekalahan. Bagi mereka, kalah tidak berarti mati. Kekalahan dapat ditebus kembali dengan kemenangan dan keberhasilan dalam bidang lain. Jika terpaksa kalah, maka mereka mau  kalah dengan penuh harga diri. Disiplin samurai telah menciptakan bangsa Jepang menjadi bangsa yang:
a. Tidak mudah menyerah karena sumberdaya alam yang minim;
b. Tidak takut pada kesusahan akibat bencana alam yang melanda;
c. Pintar memanfaatkan segala sumber yang ada;
d. Jika melakukan suatu pekerjaan, maka mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil yang terbaik;
e. Tidak boros.
3.      Budaya Keisan
Satu hal lagi yang menjadi kunci keberhasilan bangsa Jepang adalah keinginan mereka yang tinggi untuk memperbaiki diri dan mencapai keinginannya. Untuk mewujudkan keinginan  ini, mereka menerapkan konsep budaya keisan, yaitu perubahan secara berkesinambungan dalam budaya kerja mereka. Dengan cara mereka harus selalu bersikap kreatif, inovatif, dan produktif. Konsep keisan memerlukan kerajinan, kesungguhan, minat dan keyakinan, hingga akhirnya timbul kemauan untuk selalu belajar dari orang lain. Mereka mempelajari dan meniru teknologi bangsa lain, kemudian teknologi tersebut disesuaikan dengan budaya kerja dalam perusahaan Jepang.
Dalam konsep keisan, apapun bentuk perubahan yang dilakukan, kecil maupun besar dapat memberikan hasil dan kemajuan. Sebab, perubahan juga dapat membebaskan seseorang, masyarakat, dan negara dari kungkungan budaya dan cara berpikir yang tidak relevan. Hal ini berarti bahwa kita harus meninggalkan cara lama tetapi cara lama itu juga dapat dikembangkan tanpa menghilangkan dasarnya.
4.      Prinsip Kai Zen
Prinsip Kai Zen, prinsip ini umumnya digunakan oleh perusahaan, yang intinya adalah mengoptimalkan biaya dan waktu untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dalam kuantitas besar.
Untuk mencapai prinsip ini karyawan harus memberikan seluruh perhatian pada pekerjaan dan tidak boleh membuang waktu dengan obrolan tidak berguna, bercanda, atau istirahat terlalu lama. Hampir seluruh perusahaan Jepang menerapkan prinsip Kai Zen yang merupakan penerapan kualitas kerja yang menekankan pada tiga aspek utama yaitu: peningkatan kerja secara terus menerus, dapat diukur, dan dilaksanakan secara bertahap.
5.      Prinsip Keiretsu dan Zaibatsu
Secara tradisional, yang dimaksud dengan Keiretsu adalah gabungan perusahaan yang dimiliki oleh keluarga yang sama. Usaha tersebut merupakan usaha yang diwariskan secara turun temurun, seperti yang sekarang ada adalah Mitsubishi, Mitsui, dan Sumitomo. Mitsubishi yang berdiri sejak tahun 1870 pada awalnya merupakan perusahaan perkapalan, kemudian memasuki bidang pertambangan, perbankan, dan sebagainya. Melalui anak-anak perusahaan dan juga rekan perusahaan mereka membentuk satu gabungan dan serikat yang disebut Zaibatsu. Sistem penggabungan ini diyakini dapat menjadikan sebuah perusahaan yang besar, kuat, dan memonopoli. Jadi sistem ini melambangkan bahwa persatuan akan menghasilkan kebersamaan dan kebersamaan akan melahirkan kekuatan.

3.      Perilaku Masyarakat Jepang
Perilaku atau sistem tingkah laku adalah perwujudan daripada kepercayaan dan nilai-nilai yang dipedomani oleh setiap kebudayaan. Menurut Ruben (1954, 129-155) perwujudan tingkah laku itu adalah melalui simbol-simbol verbal seperti bahasa yang digunakan baik lisan maupun tulisan dan melalui symbol-simbol nonverbal seperti gerakan badaniah/bahasa tubuh, penampilan, persepsi indrawi, penggunaan ruang dan jarak serta penggunaan waktu. (Lusiana, 2012 :70).
Dari mengamati perilaku kehidupan masyarakat Jepang, sebenarnya tergambar bagaimana komunitas terdidik terlahir dari suatu sifat & sikap yang sederhana.
a.       Rasa Malu, Fenomena "malu" yang telah mendarah daging dalam sikap dan budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk didalamnya masalah kehormatan terhadap HAM, masalah law anforcement, masalah kebersihan moral aparat, dan sebagainya.
Dalam aplikasi ekstrimnya, budaya malu ini membawa pengaruh negatif dalam prilaku kehidupan masyarakat Jepang, adalah prilaku bunuh diri yang dikenal dengan “harakiri”. Lebih baik mati daripada menanggung rasa malu. Ini adalah salah satu efek negatif dari rasa malu
b.      Tertib dan Disiplin, Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu nyata. Orang Jepang lebih senang memakai jalan memutar dari pada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffice light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi.
Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian tiket kereta, masuk ke stadion, di halte bus, bahkan memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi bersusun rapi menunggu giliran.
c.       Mereka sangat mengahargai waktu. Beda dengan di Indonesia yang membudayakan jam karet alias molor. Disana mereka berangkat kerja dan sekolah sangat pagi dan jarang sekali ada yang telat, itu juga dikarenakan mereka lebih suka berangkat dengan kendaraan umum seperti kereta, daripada berangkat dengan kendaraan pribadi mereka. Berbeda dengan di negara tercinta kita ini yang lebih senang memakai kendaaraan pribadi, padahal orang-orang jepang mempunyai lebih dari satu mobil di rumah mereka (khusus yang kaya) tapi jarang dipakai,cuma dipanaskan saja kalau pagi. 
d.      Sopan dan Santun, Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakan orang lain. Kalau kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang, sebelum kita meminta maaf orang Jepang dengan cepat akan meminta maaf kepada kita, demikian juga apabila bertabrakan sepeda dengan mereka, tidak peduli siapa yang sebenarnya pada pihak yang salah, mereka akan secara refleks mengatakan gomennasai (maaf).
Seperti prilaku orang Timur pada umumnya, orang Jepang selalu menyapa dan mengucapkan salam kepada orang yang ditemuinya, sekalipun itu orang asing yang belum mereka kenal.
Sama halnya dengan budaya Jawa, bahasa Jepang juga memiliki kosa kata khusus yang digunakan untuk menunjukkan penghormatan atau yang lebih sopan seperti “krama inggil” dalam bahasa Jawa.
e.       Memberi Hormat, Membungkuk merupakan hal yang bagi masyarakat Jepang untuk memberi salam atau meminta maaf. Dari saat mereka memasuki sekolah dasar, orang Jepang belajar untuk menghormati orang tua – dan membungkuk adalah bagian dari itu. Seberapa dalam tunduk kepada siapa adalah penting juga. Tunduk pada teman pada diambil sudut 30 derajat sedangkan untuk atasan di tempat kerja atau orang tua dan orang-orang yang di hormati lain nya pada sudut 70 derajat di ikuti dengan tutur bahasa yang sopan. Ketika memanggil orang yang lebih tua harus selalu menambahkan “san”, yang merupakan nama kehormatan untuk mereka.
f.       Jepang bisa maju seperti sekarang ini karena mereka rajin belajar, murid murid di Jepang biasa belajar sampai lebih dari 12 jam, dari pagi jam 08.00 sampai 17.00. Setelah selesai di sekolah mereka tidak langsung pulang tapi mereka belajar di Juku ( semacam bimbingan belajar). Mereka belajar di Juku bisa sampai jam 22.00 dan baru pulang sekitar jam 24.00. Kalau tidak ada kegiatan di juku mereka biasanya mengikuti les yang menunjang bakat mereka misalnya menari, karate, les piano dan lain-lain, Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Kebiasaan ini sangat berbeda dengan pelajar kita, pulang sekolah, pergi ke mall atau pergi nongkrong. Dan hal ini menjadikan orang Jepang untuk giat bekerja saat telah menyelesaikan pendidikan.
g.      Identitas Kolektif, masyarakat Jepang cenderung menganut identitas kolektif (kelompok) sebagai sebuah kebanggaan. Kultur kebersamaan ini bisa terlihat jika kita sudah bergabung dengan komunitas tertentu, misalnya di laboratorium, unit kegiatan mahasiswa, atau perusahaan. Mereka membentuk program-program atau kegiatan yang dapat memacu kemajuan bersama. Prilaku bekerja sama dan terbiasa dalam teamwork ini sesuai dengan Konsep Wa yakni salah satu pilar nilai dalam budaya jepang yang berarti harmoni. Wa mengandung makna mengedepankan semangat teamwork, menjaga hubungan baik, dan menghindari ego individu.
h.      High Context Culture, Dalam berkomunikasi, masyarakat Jepang merupakan salah satu penganut budaya High Context Culture (HCC) atau komunikasi konteks tinggi dimana masyarakat Jepang pada umumnya menghindari konfrontasi dan kritik terbuka secara langsung. Membuat orang lain “kehilangan muka” merupakan tindakan tabu dan dapat menyebabkan keretakan dalam hubungan bisnis.
i.        Dalam tata cara makan di Jepang, menyeruput makanan Anda, terutama sup atau ramen, benar-benar dapat diterima. Bahkan, itu dianggap sebagai cara yang tepat untuk menikmati rasa ramen sepenuhnya. Bahkan ini adalah cara mereka untuk menghargai tuan rumah ataupun koki yang sudah menyiapkan makanan. Namun, di banyak negara Barat, satu-satunya suara yang harus terdengar di meja makan adalah percakapan dan bunyi peralatan makan.
Makan permen karet sambil menyelesaikan pekerjaannya merupakan sebuah prilaku yang lazim bagi masyarakat Jepang. Di Jepang, rak-rak toko dipenuhi dengan banyak permen karet dengan berbagai rasa yang berbeda dan mereka yang membutuhkannya untuk menyegarkan nafas mereka bebas untuk menggunakan permen karet untuk menyelesaikan pekerjaan.
j.        Sikap Duduk, Masyarakat Jepang juga memiliki sikap duduk yang unik yang mirip dengan sikap duduk wanita Bali saat beribadah yakni duduk dengan sikap “Seiza” (duduk dengan kaki terlipat di bawah pantat), secara harfiah diterjemahkan sebagai “duduk yang tepat.” Namun, di Korea, duduk dengan sikap “Seiza” dikenal sebagai “gaya duduk tahanan” dan secara luas dianggap cara untuk membawa kesakitan pada tamu Anda.
k.      Tata Cara Makan, setia anak-anak di Jepang diajarkan untuk  memakan setiap potongan terakhir dari makanannya, termasuk butiran nasi, sebelum beranjak dari meja. Namun di China, dianggap sopan untuk meninggalkan beberapa sisa makanan di piring Anda sebagai pengakuan atas kemurahan hati tuan rumah. Jika semua makanan dimakan, hal itu menjadi pertanda bagi tuan rumah bahwa makanannya tidak cukup.
Jika diundang ke sebuah pesta minum (“nomikai”), jangan menuangkan bir hanya untuk diri sendiri dan mulai minumnya. Sikap yang baik mengharuskan kalian untuk ‘toast‘ terlebih dahulu, angkat gelas dengan satu tangan dan mengatakan “Kanpai!” (Cheers!) Biasanya, ketika mengambil tempat duduk, pelayan akan memberikan “oshibori” (handuk basah kecil) untuk membersihkan tangan. Etika makan merupakan hal yang ketat di Jepang,
l.        Budaya di Jepang mengharuskan kita melepas sepatu saat memasuki rumah atau berkunjung ke rumah orang Jepang. Di setiap rumah tersedia sandal untuk kita pakai saat berada di dalam rumah. Bahkan sebagian orang Jepang membawa sendiri sendal mereka. Ada juga sendal lain saat kita hendak masuk ke toilet.
m.    Ada banyak spa dan pemandian umum di kota-kota dan daerah pedesaan di Jepang. Gaya mandi Jepang berbeda dengan di Barat atau di Indonesia. Pertama-tama, kita harus mencuci tubuh kita sebelum masuk ke bak mandi untuk berendam. Pemandian umum “sento” adalah tempat yang tepat untuk bersantai.
n.      Untuk menunjuk dirinya sendiri biasanya orang Jepang menunjuk hidungnya dengan jari telunjuk. Berbeda dengan orang Indonesia yang biasa menepuk dadanya atau menunjuk dadanya.
o.      Ketika kita melihat prilaku orang Jepang yang tampak tertidur, mata terpejam dan kepala menunduk-ketika pebisnis asing sedang melakukan presentasi, sebenarnya sedang menyimak presentasi tersebut dengan sungguh-sungguh.
p.      Di jepang juga terkenal dengan kebiasaan membaca. Dimanapun dan kapanpun bisa mereka manfaatkan untuk membaca misalnya di kereta api, di taman, di toko buku dan tempat lainnya.
q.      Dalam hal keuangan, orang Jepang terkenal dengan sifat yang hemat dan tidak suka berprilaku konsumtif. Hal ini kenapa orang Jepang sering berbelanja pada pukul 19.30 karena pada jam-jam seperti ini biasanya supermarket memberikan diskon.  Di Jepang kita tidak perlu memberi tip kepada pegawai hotel, bar dan staf restoran, sopir taksi, dan sebagainya. Bahkan, memberi seseorang tip akan mempermalukan mereka, karena itu merupakan hal yang sedikit agak kasar untuk dilakukan di Jepang, karena harga sudah termasuk tips.
r.        Salah satu nilai baik yang ditanamkan sejak dini adalah mengenai kemandirian. Sejak kecil anak-anak di Jepang diajar untuk mandiri sehingga anak-anak sudah terbiasa pergi dan pulang sekolah sendiri tanpa dijemput oleh orang tuanya.
s.       Bangsa Jepang juga dikenal karena semangat pantang menyerah, karena dalam budaya mereka tidak ada prinsip kegagalan. Yang ada hanyalah kurang berusaha, oleh karenanya mereka terbiasa menjadi orang-orang yang ulet dan pantang menyerah. Tidak heran jika mereka bisa bangkit pasca bom Hiroshima dan Nagasaki.
t.        Disamping berbagai kebiasaan baiknya, di Jepang dikenal beberapa kebiasaan buruk yang biasa dilakukan masyarakat ini seperti kebiasaan jarang mandi. Sebagian besar dari kita mengira kalau orang jepang yang berkulit putih mulus sering mandi dan luluran serta segala macam perawatan kulit,tapi kenyataannya mereka jarang sekali mandi apalagi luluran. Tiap pagi sebelum berangkat kerja atau sekolah mereka tidak pernah mandi, mereka hanya cuci muka dan gosok gigi saja. Mereka mandi hanya seminggu sekali di pemandian air panas (onsen), dan yang menarik mereka mandi beramai-ramai dan tanpa menggunakan busana sehelaipun.
u.      Prilaku buruk lainnya di Jepang adalah seks bebas. Jepang merupakan industri film porno di dunia,terbukti dengan artis-artis porno yang udah terkenal di seantero jagat. Itu merupakan salah satu yang menyebabkan mereka doyan sex bebas dan menyebabkan tingginya penyakit HIV di jepang. Bahkan industri JAV menghasilkan pemasukan negara ke 2 terbesar di Jepang, setelah otomotifnya. 1 DVD bisa seharga 4500-6000 Yen.
v.      Orang Jepang sering bunuh diri. Mereka biasa bunuh diri di awal tahun atau akhir tahun, biasanya mereka bunuh diri karena mereka malu, banyak diantaranya pelajar yang tidak lulus, ada juga yang bunuh diri karena lilitan hutang,dan masih banyak penyebab mereka bunuh diri.  Bahkan terdapat tempat-tempat terfavorit untuk bunuh diri yaitu di hutan Aokigahara dan air terjun Kegon serta beredar buku panduan bunuh diri. Namun jika bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta, akan didenda sebesar 10M.
w.    Prosedural, Well Organized, Tekun, dan Teliti. Sifat-sifat ini turunan dari karakter yang menghargai usaha. Untuk meraih hasil yang memuaskan, di dalam bekerja orang Jepang sangat memperhatikan urutan langkah-langkahnya. Jika mereka diberikan petunjuk untuk menyelesaikan pekerjaan atau menggunakan suatu alat, maka mereka akan dengan teliti membaca petunjuknya dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewat lalu benar-benar mengerjakan sesuai dengan petunjuk yang diberikan. Sangat prosedural. Jangan heran ketika melihat seorang masinis kereta yang sudah bekerja puluhan tahun, ketika menjalankan tugasnya dia masih dengan semangat menunjuk-nunjuk panel-panel kontrol sambil berbicara pada dirinya sendiri, itu semata-mata dilakukan untuk memastikan dia tidak salah dalam melakukan tugasnya. Meski mereka telah sering menjalani rutinitas itu, ketekunan dan ketelitiannya tidak berkurang. Orang Jepang memang sangat cocok untuk jenis pekerjaan yang berupa rutinitas dan membutuhkan ketelitian.

B.       PENGORGANISASIAN SOSIAL MASYARAKAT JEPANG
1.      Organisasi Informal (keluarga)
Dasar Konsep IE dalam budaya Masyarakat Jepang
Pada zaman dahulu, sistem keluarga di Jepang terikat dalam suatu sistem kekeluargaan yang disebut dengan sistem ie. Sistem ini merupakan sistem keluarga dimana di dalam satu rumah, terdiri dari ayah, ibu, 4 atau 5 anak-anak termasuk didalamnya kakek dan nenek mereka. Anak laki-laki tertua atau Chonan merupakan kepala keluarga dari keluarga tersebut. Chonan merupakan juga penerus usaha orang tua dan pewaris dari usaha orang tuanya dan bertanggung jawab terhadap kehidupan orang tuanya di masa tua,dan bertangung jawab terhadap kelanjutan keluarga itu sendiri.
Dalam masyarakat. Jepang dikenal adanya nama keluarga (family name). Oleh sebab itu. anak laki-laki tertua mempunyai kewajiban yang berat dalam menjunjung tinggi nama keluarga mereka. Sebaliknya, anak perempuan akan kehilangan nama keluarganya ketika la menikah.
ie, dapat berarti keluarga ataupun bangunan rumah. Menurut Ruth Benedict, penulis buku The Chrysanthemum and The Sword, kehidupan masyarakat Jepang tidak bisa dilepaskan dari sistem hirarki sejak dahulu kala. Sistem hirarki ini tercermin salah satunya dalam sistem ie (keluarga). Fukutake mengungkapkan bahwa sejak zaman Tokugawa (samurai), sistem ini mulai dianut oleh masyarakat Jepang, dan bahkan dikukuhkan dalam Hukum Sipil Meiji pasca Restorasi (tahun 1868). Garis besar isinya:
1.      Kepentingan ie harus mendapat prioritas daripada kepentingan pribadi.
2.      Kachou (dalam hal ini kepala keluarga), mempunyai wewenang yang besar dalam aspek penting keluarga, baik itu perekonomian, hak waris, dan pemujaan leluhur.
3.      Hubungan oyako (orang tua dan anak) lebih dijunjung tinggi dibanding hubungan suami-istri.
4.      Chounan (putra tertua) mempunyai hak waris utama dibandingkan jinnan (putra II dan sannan (putra III).
5.      Harkat laki-laki lebih dihargai daripada wanita.
6.      Perkawinan lebih merupakan penyatuan ie daripada penyatuan suami-istri.
7.      Honke (keluarga utama) lebih diutamakan daripada bunke.
Menurut Torigoe Hiroyuki, ie adalah dasar kehidupan orang Jepang dalam hal ini untuk beberapa tujuan, yaitu: melestarikan myoji (nama keluarga), melestarikan zaisan (warisan keluarga) dan sebagai sosen suuhai (pemujaan leluhur). Sedangkan menurut Inoue Tetsujiro ie harus dipahami dari ciri-ciri khasnya yaitu: ada kachou, harus ada ketaatan menghormati kachou, dan adanya kesinambungan sejarah keluarga.
Sistem kekerabatan yang dianut oleh orang Jepang adalah sistem patrilineal atau menarik garis keturunan dari pihak ayah. Untuk itu, kedudukan laki-laki dianggap jauh lebih tinggi daripada wanita. Kachou adalah sebutan bagi ayah dan suami sebagai pemimpin keluarga, tokoh sentral dan mempunyai derajat tertinggi di antara anggota keluarga sehingga memiliki hak istimewa, misalnya: mendapat pembagian nasi paling pertama saat makan, duduk di posisi paling utama di meja makan, mandi di ofuro (bathtub ala Jepang) paling pertama pula (perlu diketahui bahwa air panas dalam ofuro dulu dipakai mandi oleh seluruh anggota keluarga tanpa diganti, dimulai dari kachou, chounan, jinnan, sannan, dst). Hak-hak tersebut di atas diikuti juga oleh kewajiban. Kachou menjadi tulang punggung keluarga. Ini berkaitan dengan peranan ekonominya. Hak istimewanya mendapatkan warisan keluarga (zaisan) menuntutnya untuk mampu menafkahi keluarga, termasuk istri, anak-anak dan orang tuanya.
Chounan atau anak laki-laki pertama memiliki kedudukan yang tidak kalah pentingnya. Chounan dianggap sebagai penerus nama keluarga dan kelak akan menjadi kachou di keluarganya. Sedemikian pentingnya keberadaan seorang putra dalam meneruskan nama keluarga sehingga ada yang disebut mukou yoshi. Istilah  ini merujuk kepada kebiasaan di keluarga yang hanya memiliki anak perempuan untuk menarik suami anaknya menjadi penerus keluarganya. Pada situasi seperti ini, sang menantu laki-laki terkesan keluarganya memiliki derajat yang lebih rendah daripada keluarga istrinya sehingga ia rela untuk merubah nama keluarga dan ditarik masuk ke dalam garis keluarga istrinya. Saking beratnya konsekuensi menjadi seorang mukou yoshi, maka muncul peribahasa, "San go nuka areba, yoshi ni ikuna". Artinya: Andaikan masih ada 3-5 butir beras, jangan lah mau menjadi mukou yoshi".
Jika diperhatikan, kedudukan wanita dalam sistem ie sangat rendah. Dikatakan bahwa, seorang wanita pada masa kecilnya mengabdi kepada ayahnya, setelah menikah mengabdi kepada suami, dan setelah tua mengabdi kepada anak laki-lakinya. Ada peribahasa juga yang menyangkut situasi ini,
"Oyome ni ikeba, tanin ni hajimari".
Artinya: Jika telah menjadi pengantin wanita, maka itu adalah awal menjadi orang lain (bagi keluarga wanita)". Dikatakan demikian, karena begitu seorang wanita menikah, maka ia akan ikut ke dalam keluarga suaminya sehingga hubungan dirinya dengan keluarganya sendiri bisa dikatakan terputus. Dikenal juga istilah shichikyou (7 aturan untuk menceraikan istri) yaitu alasan-alasan yang meliputi: bila istri tidak mempunyai anak, sakit parah, cerewet, mengambil uang, pencemburu, dan tidak patuh kepada suami dan mertua).
Sebenarnya, menurut Aruga Kizaemon, eksistensi ie tidak semata-mata karena adanya keturunan darah, namun dapat pula diteruskan oleh pelayan keluarga tersebut dengan catatan bahwa pelayan tersebut memiliki kazoku ishiki (kesadaran akan rasa memiliki terhadap keluarga tersebut), adanya rasa hubungan keagamaan dalam bentuk sosen suuhai, adanya hubungan ekonomi, hukum, moral, budaya, dll.
Ideologi keluarga tradisional ie mulai dianut pada zaman Tokugawa dan kemudian menjadi kazoku kokka (konsep negara keluarga) pada sebelum hingga pasca Perang Dunia II.
Dalam keluarga Jepang dikenal juga istilah orang dalam (naka) dan orang luar (soto). Istilah ini sebenarnva untuk memperjelas kedudukan atau posisi kita dalam keluarga Jepang. Yang dimaksud orang dalam (naka) adalah orang yang mempunyai hubungan darah dan tinggal bersama di dalam satu rumah. Sedangkan orang luar (soto) adalah orang yang ada di luar lingkungan keluar-ga atau orang yang tidak mempunyai hubugan darah.
Hubungan naka dan soto ini besar sekali pengaruhnya pada budaya dan kehidupan orang Jepang. Mereka akan selalu berhati-hati dalam bertingkah laku juga berbicara dengan orang yang berada di luar lingkungan rumah mereka. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, pada waktu orang Jepang berkenalan dengan orang luar, la selalu menjaga jarak. Ini terlihat dari tingkah lakunya dan bahasa yang digunakannya untuk menghormati lawan bicaranya.
Setelah modernisasi masuk ke Jepang sekitar pertengahan abad ke-19 Jepang mulai mentransfer segala macam bentuk budaya Barat (westernisasi). Struktur keluarga Jepang pun ikut mengalami perubahan. Para pasangan muda pada waktu itu tidak lagi menginginkan banyak anak. Mereka hanya ingin memiliki 1 atau 2 anak saja Kemudian kakek dan nenek atau orang tua mereka ingin menjalani kehidupan sendiri. Mereka tidak lagi tinggal bersama anak-anak mereka. Struktur keluarga seperti ini kemudian disebut dengan keluarga batih atau keluarga inti yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 1 atau 2 orang anak.
Dewasa ini, struktur keluarga batih pun semakin berkurang. Perkembangan ilmu pengetahuan, kecanggihan tehnologi, kemajuan perekonomian kemudian diikuti oleh harga-harga kebutuhan yang semakin tinggi, mengakibatkan kebanyakan pasangan muda di Jepang menginginkan 1 orang anak saja atau tidak sama sekali. Kecenderungan ini menyebabkan rasio jumlah orang tua dan anak-anak di Jepang tidak seimbang. Bedasarkan hasil statistik, jumlah anak-anak sampai dengan umur 15 tahun hanya seperlima dari, jumlah penduduk keseluruhan yaitu hanya 20,24 juta orang dari 125,6 juta orang.
Sejalan dengan itu, banyak dari kaum lanjut usia yang tidak mau lagi tinggal bersama-sama dengan anak-anak mereka. Mereka lebih memilih untuk hidup sendiri dan berkumpul dengan masyarakat seusia mereka, memanfaatkan sisa hidup dengan pekerjaan dan kegiatan yang dapat memberikan andil positif pada masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jenis kegiatan dari para lanjut usia ini. Kelompok lanjut usia ini disebut koreka shakai. Mereka merupakan masyarakat lanjut usia yang juga menjadi bagian dari penduduk dan rakyat Jepang. Otousan ga seikatsu no koto o kimeru keiri o motte imasu. (Seorang ayah memiliki hak untuk menentukan segala scsuatu dalam keluarganya).

2.      Organisasi Formal

SISTEM PENDIDIKAN JEPANG
Sebelum Restorasi Meiji, Jepang melaksanakan pendidikannya berdasarkan sistem masyarakat feodal, yaitu pendidikan untuk samurai, petani, tukang, pedagang, serta rakyat jelata. Kegiatan ini dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Budha yang terkenal dengan sebutan Terakoya (sekolah kuil). Mirip dengan pesantren di Indonesia.
Namun, semenjak Restorasi Meiji dikibarkan, bagai bola salju, pemerintah Jepang terus “menggelindingkan” puspa ragam kebijaksanaannya dengan mulai giat menerjemahkan dan menerbitkan berbagai macam buku, di antaranya tentang ilmu pengetahuan, sastra, maupun filsafat. Para pemuda banyak dikirim ke luar negeri untuk belajar sesuai dengan bidangnya masing-masing, tujuannya jelas yaitu mencari ilmu dan menanamkan keyakinan bahwa Jepang akan dapat “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah” dengan kemajuan dunia Barat.
Sesudah perang, mulai 3 November 1946, konstitusi baru Jepang menetapkan kebijakan pendidikannya atas dasar hak asasi manusia, jaminan kebebasan berfikir, dan hati nurani, kebebasan beragama, kebebasan akademik, dan hak bagi semua orang untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan kemampuan mereka. Pada Maret 1947, melalui Peraturan Pendidikan Nasional (School Education Law) ditetapkan susunan dasar pendidikan keseluruhan atas  dasar 6-3-3-4 beserta tujuan khusus pada tiap jenjangnya.
Pada Maret 1947 juga berlaku Hukum Dasar Pendidikan (Fundamental Law of Education) yang pada hakekatnya merupakan statement filsafat pendidikan demokratis yang dalam banyak hal berbeda dengan Imperial Rescript on Education. Misalnya, dalam hubungan antara warga dengan negara, dalam Imperial Rescript on Education  disebutkan bahwa, setiap warga memiliki kewajiban untuk mengembangkan daya intelektual dan moral mereka, melaksanakan hukum dan mempersembahkan keberaniannya demi negara untuk melindungi dan menjaga kesejahteraan istana Kaisar. (Imam Barnadib, 1986: 53),
Sedangkan dalam Fundamental Law of Education disebutkan bahwa, Setiap warga memiliki kesempatan yang sama menerima pendidikan menurut kemampuan mereka, bebas dari diskriminasi atas dasar ras, jenis kelamin, status sosial, posisi ekonomi, asal usul keluarga, bantuan finansial, bagi yang memerlukan, kebebasan akademik, dan tanggung jawab untuk membangun negara dan masyarakat yang damai (Imam Banrnadib, 1986: 53).
Perbedaan yang lain adalah mengenai tujuan pendidikan. Dalam Imperial Rescript on Education disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan kesetiaan dan ketaatan bagi Kaisar agar dapat memperoleh persatuan masyarakat di bawah ayah yang sama, yakni Kaisar. Adapun tujuan pendidikan menurut Fundamental Law of Education adalah untuk meningkatkan perkembangan kepribadian secara utuh, menghargai nilai-nilai individu, dan menanamkan jiwa yang bebas.

PENDIDIKAN WAJIB
Wajib sekolah berlaku bagi anak usia 6 sampai 15 tahun, tetapi kebanyakan anak bersekolah lebih lama dari yang diwajibkan. Tiap anak bersekolah di SD pada usia 6 tahun hingga 12 tahun, lalu SMP hingga usia 15 tahun. Pendidikan wajib ini bersifat cuma-cuma bagi semua anak, khususnya biaya sekolah dan buku, namun bagi anak-anak dari keluarga yang tidak mampu mendapat bantuan khusus dari pemerintah pusat dan daerah. Di samping itu ada juga bantuan untuk kebutuhan belajar, perawatan kesehatan, dan lain-lain. Dengan demikian, sekolah wajib ditempuh selama 9 tahun; 6 tahun di SD dan 3 tahun di SMP. Hampir semua siswa di Jepang belajar bahasa Inggris sejak tahun pertama SMP, dan kebanyakan mempelajarinya paling tidak selama 6 tahun. Mata pelajaran wajib di SMP adalah bahasa Jepang, ilmu-ilmu sosial, matematika, sains, musik, seni rupa, pendidikan jasmani, dan pendidikan kesejahteraan keluarga. (Abd. Rachman Assegaf, 2003: 177-178).

Pendidikan Menengah Atas
Ada tiga jenis SMA, yaitu: full time, part time (terutama malam hari), dan tertulis. Sekolah menengah yang full time berlangsung selama 3 tahun, sedangkan kedua jenis sekolah lainnya menghasilkan diploma yang setara. Bagian terbesar siswa mendapat pendidikan  menengah atas di SMA full time. Jurusan di SMA dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan pola kurikulum, yaitu jurusan umum (akademis), pertanian, teknik, perdagangan, perikanan, home economic, dan perawatan. Untuk masuk ke salah satu jenis sekolah tersebut, siswa harus mengikuti ujian masuk dan membawa surat referensi dari SMP tempat ia lulus sebelumnya. Hampir semua SMP dan SMA serta Universitas swasta menentukan penerimaan siswa melalui ujian masuk, dan setiap sekolah menyelenggakan ujian masuk sendiri. (Abd Rachman Assegaf, 2003: 178-179).

Pendidikan Tinggi
Ada tiga jenis lembaga pendidikan tinggi, yaitu: universitas, junior college (akademi), dan technical college (akademi teknik). Di universitas terdapat pendidikan sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2 dan S-3). Pendidikan S-1 berlangsung selama 4 tahun, menghasilkan sarjana bergelar Bachelor’s degree, kecuali di fakultas kedokteran dan kedokteran gigi yang berlangsung selama 6 tahun. Pendidikan pascasarjana dibagi dalam dua kategori, yakni Master’s degree  (S-2) ditempuh selama 2 tahun sesudah tamat S-1dan Doctor’s degree (S-3) ditempuh selama 5 tahun.
Junior college memberikan pendidikan selama dua atau tiga tahun bagi para lulusan SMA. Kredit yang diperlukan di junior college dapat dihitung sebagai bagian dari kredit untuk memperoleh gelar Bachelor’s degree (S-1). Lulusan sekolah menengah (setingkat SMP) dapat masuk ke technical college (akademi teknik). Pendidikan di lembaga ini berlangsung selama 5 tahun (full time) untuk mencetak tenaga teknisi.
Pendidikan tinggi di Jepang berada di bawah pengelolaan tiga lembaga, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Ada lima jenis pendidikan tinggi yang bisa dipilih mahasiswa asing di negara Jepang ini, yaitu: program sarjana, pascasarjana, diploma (non gelar), akademi, dan sekolah kejuruan. Program sarjana menerima tiga macam  mahasiswa, yaitu: mahasiswa reguler, mahasiswa pendengar, dan mahasiswa pengumpul kredit.
Mahasiswa reguler adalah mereka yang belajar selama 4 tahun, kecuali jurusan kedokteran yang harus menempuh 6 tahun. Mahasiswa pendengar adalah mahasiswa yang diijinkan mengambil mata kuliah tertentu dengan syarat dan jumlah kredit yang berbeda di setiap universitas tetapi kredit itu tidak diakui. Adapun mahasiswa pengumpul kredit hampir sama dengan mahasiswa pendengar, tetapi kreditnya diakui.
Sedangkan program pascasarjana terdiri atas program Master, Doktor,  Mahasiswa Peneliti, Mahasiswa Pendengar, dan Pengumpul Kredit. Mahasiswa Peneliti adalah mahasiswa yang diijinkan melakukan penelitian dalam bidang tertentu selama 1 semester atau 1 tahun tanpa tujuan mendapatkan gelar. Program ketiga adalah diploma, yang lama pendidikannya 2 tahun. Enam puluh persen dari program ini diperuntukkan bagi pelajar perempuan dan mengajarkan bidang-bidang seperti kesejahteraan keluarga, sastra, bahasa, kependidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Akademi atau special training academy adalah lembaga pendidikan tinggi yang mengajarkan bidang-bidang khusus, seperti keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan atau kebidupan sehari-hari dengan lama pendidikan antara 1 sampai 3 tahun. Adapun sekolah kejuruan adalah program khusus untuk lulusan SMP dengan lama pendidikan 5 tahun dan bertujuan membina teknisi yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Abd. Rachman Assegaf, 2003: 179-180).

C.       SISTEM LAMBANG/ SIMBOL DALAM PERSEPSI BUDAYA JEPANG

Simbol adalah representasi dari sesuatu. Setiap orang dapat menerapkan makna individual pada simbol tertentu. Simbol dapat digolongkan menjadi:
1.      Simbol verbal yaitu bentuk bahasa terucapkan dan tertulis dengan kata-kata.
2.      Simbol non verbal yakni bentuk bahasa atau tingkah laku tanpa kata-kata.  Secara garis besar, macam-macam perilaku non verbal terbagi atas penampilan, gerakan badaniah (Kinesic), persepsi indrawi (Sensoric), penggunaan ruang jarak (Proxemic), penggunaan waktu (Chronemic) dan paralinguistik (Paralanguage).

1.      Simbol Verbal Dalam Persepsi Budaya Jepang
a.       Bahasa terucapkan
1.      Bahasa Jepang terbagi kepada dua bentuk yaitu Hyoujungo, pertuturan standar, dan Kyoutsugo, pertuturan umum.  Hyoujungo adalah bentuk yang diajarkan di sekolah dan digunakan di televisi dan segala perhubungan resmi.
b.      Bahasa tertulis
Bahasa jepang memiliki beberapa jenis huruf yaitu hiragana, katakana dan kanji. Huruf-huruf itu memiliki perbedaan dalam penggunaanya. Berikut perbedaan fungsi dan penggunaan semua jenis huruf bahasa Jepang tersebut:
1.      Huruf Hiragana dulunya digunakan oleh para wanita jepang (bentuk tulisannya halus). Sedangkan penggunaanya adalah untuk kata keterangan, perkataan dimana huruf kanji sudah lama tidak digunakan atau bahkan sudah tidak diketahui dan digunakan untuk
situasi yang formal.

2.      Huruf katakana hanya digunakan oleh kamu lelaki (bentuknya lurus-lurus). Digunakan untuk kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang kemudian diserap menjadi bahasa jepang.


3.      Huruf kanji, berasal dari Cina yang diperkenalkan pada abad keempat Masehi. Kanji dipakai untuk menyatakan arti dasar dari kata (baik berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, atau kata sandang).


2.      Non-Verbal
a.       Penampilan
Contoh yang khas menyimbolkan penampilan budaya Jepang dapat kita lihat dari cara berpakaian dan gaya rambut.
1.      Pakaian
·           Pakaian tradisional laki –laki dan perempuan di jepang :
Kimono, berbentuk seperti huruf "T", mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan.
·           Selain pakaian tradisional, Harajuku style juga menjadi simbol penampilan budaya Jepang. Harajuku lebih mengacu pada arti: 'Street Fashion' yang tidak umum. Bahkan tanpa batasan, contohnya model fashion 'tabrak lari', 'gak nyambung', 'aneh', dan 'berlebihan'.
2.      Rambut sebagai Simbol Harga Diri :
Chonmage adalah bentuk potongan rambut tradisional Jepang yang menampilkan bagian rambut depan yang dicukur. Rambut yang tersisa, yang sudah lama, setelah diminyaki dan diikat menjadi ekor kuda kecil yang dilipat ke bagian atas kepala di jambul yang khas. Di zaman modern, pemakai chonmage yang tersisa adalah para pegulat sumo. Gaya chonmage sedikit berbeda, dalam hal kepala tidak lagi dicukur, meskipun rambut mungkin menipis di wilayah ini untuk memungkinkan jambul untuk duduk lebih rapi. Chonmage adalah bagian dari simbol penting bagi seorang pesumo.
b.      Gerakan Badaniah (Kinesic)
1.      Membungkukkan badan (Ojigi)
Simbol budaya Jepang dalam menyapa adalah dengan membungkukkan badan atau yang lebih dikenal dengan istilah Ojigi. Membungkukkan badan juga digunakan ketika meminta sesuatu seraya memohon maaf, ketika memberi ucapan selamat, ketika mengakui kehadiran seeorang, dan ketika berpisah. Ojigi bermakna sama seperti berjabat tangan yang biasa dilakukan oleh orang barat, akan tetapi bergantung kepada kedalamannya, juga menunjukkan tingkat tinggi rendah/ hierarki diantara dua orang maupun lebih.  Ada dua jenis ojigi :
·       Ritsurei yaitu ojigi yang dilakukan sambil berdiri. Saat melakukan ojigi, untuk pria biasanya sambil menekan pantat untuk menjaga keseimbangan, sedangkan wanita biasanya menaruh kedua tangan di depan badan.
·       Zarei adalah ojigi yang dilakukan sambil duduk. Berdasarkan intensitasnya, ojigi dibagi menjadi 3, semakin lama dan semakin dalam badan dibungkukkan menunjukkan intensitas perasaan yang ingin disampaikan, misalkan rasa hormat / penghargaan:
a) Saikeirei, adalah level yang paling tinggi, badan dibungkukkan sekitar 45 derajat  atau lebih. 
b) Keirei, yaitu badan dibungkukkan sekitar 30-45 derajat.
c) Eshaku, adalah membungkukkan badan sekitar 15-30 derajat.
2. Menunjuk Hidung, meletakkan jari telunjuk di depan bibir dalam budaya Jepang menyimbolkan bahwa sipelaku pembicara menunjukkan kepada diri sendiri. Sedangkan ketika sipembicara meletakan ujung jari telunjuk di depan bibirnya, itu bisa dapat diartikan “tolong diam”.
3. Simbol OK yakni dengan membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu memperlihatkan samping kelingking kepada lawan bicara. Ini menandakan ada sesuatu hasil yang positif yang telah setujui atau disepakati bersama.
4.  Menyatakan Okama
Caranya dengan meletakkan telapak tangan di sisi mulut dengan telapak tangan menghadap ke luar. Isyarat ini dapat berarti gay jika dilakukan tanpa mengatakan sesuatu. Namun, jika  mengatakan sesuatu, itu berarti bahwa Anda berbisik-bisik tentang seseorang di belakangnya.
5. Ochi tsui te
Caranya dengan menggerakkan kedua tangan dari atas ke bawah sambil berkata “ochi tsuite” atau "maaa maaa maaa" dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Hal ini dilakukan agar seseorang tetap tenang, dan tidak perlu panik. "Ochitsuite" atau "Maa Maa Maa" harus dikatakan bersama-sama dengan gerakan tangan agar dapat dipahami maksudnya.
6. Tatapan mata
Kontak mata dengan menatap mata seseorang dengan waktu yang lebih intens bagi orang Jepang menyimbolkan bahasa non verbal dari dominasi atau peneguhan status seseorang. Mereka menyebut perilaku tersebut “membelalak” yang memberi kesan tidak sopan. Orang Jepang khususnya hanya sekitar 10 % melakukan kontak mata dari seluruh waktu yang mereka gunakan untuk bercakap-cakap. Selebihnya mereka melihat ke leher mitra bicara ketika mereka mendengarkan dan memandang kaki atau lulut mereka sendiri ketika mereka sendiri berbicara. Ketika ada masyarakat Jepang yang menundukkan kepala ketika berbicara, itu dimaksudkan untuk menghormati lawan bicara yang biasanya orang tua atau yang berstatus lebih tinggi. Masyarakat Jepang, terutama mereka yang tidak berkedudukan tinggi hampir tidak pernah saling menatap mata. Jepang memilih untuk menundukkan kepala. Hal tersebut memperlihatkan bahwa Jepang lebih tertutup dari kebudayaan lain, termasuk lebih memilih untuk menundukkan kepala agar tidak bertemu pandang dengan lawan bicaranya. Mereka lebih khawatir ketika seseorang menatap mata mereka, semakin lama ditatap maka mereka akan semakin tidak konsentrasi. Bahkan sebagai ekspresi penolakanpun, tidak perlu diucapkan dengan kata-kata, cukup dengan palingan mata.
7. Diam
Konsep diam bagi orang Jepang menyimbolkan akan adanya ketidaksetujuan terhadap suatu keputusan. Dalam budaya mereka, tidak sopan mengutarakan ketidaksetujuan dengan terbuka.
c.       Persepsi Indrawi (Sensorik)
Contohnya, kebiasaan untuk menjaga kebersihan merupakan hasil dari kebudayaan tua di Jepang dan merupakan salah satu bagian dari ajaran Budha. Pemerintah Jepang dan masyarakatnya secara umum sejak jaman Edo selalu mengkampanyekan slogan Utsukushi kuni (Negara Jepang yang cantik). Slogan tersebut menyimbolkan suatu ungkapan yang ditujukan untuk menjaga kebersihan sebagai hal yang mutlak bagi orang Jepang demi terciptanya Jepang yang cantik. Pada masa kini, hal tersebut tercermin dari berbagai hal, mulai dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya, hingga ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu dalam penjagaan kebersihan kota, seperti halnya makan dikendaraan umum, sampah sisa makanan tersebut disimpan ke dalam saku celana atau dimasukkan ke dalam tas, kemudian baru dibuang setelah menemukan tempat sampah.
d.      Penggunaaan Ruang Jarak (Proxemic)
Setiap individu atau kelompok memiliki wilayah pribadi seperti rumah dan kantor. Dalam tataran teknis simbol-simbol proxemic dapat terlihat misalnya suatu kondisi dimana seorang majikan di Jepang dan pegawainya biasanya berdiri renggang ketika mereka berbicara. Tidak hanya antara majikan dan pegawai, akan tetapi ketika seorang individu maupun kelompok bukan menjadi bagian dari kelompoknya, atau dianggap sebagai orang luar, maka mereka akan saling duduk berjauhan dan tetap menjaga jarak. Di Jepang, sudah menjadi kebiasaan bahwa ketika berada di kantor, ruangannya lebih terbuka dan besar, kemudian orang yang paling penting akan duduk di tengah-tengah. Seorang pemimpin di Jepang, meskipun dia memiliki kantor tersendiri, mereka jarang menggunakannya dalam operasi sehari-hari. Pegawai tinggi Jepang lebih suka bekerja dalam suatu daerah terbuka yang juga ditempati para pegawai sehingga mereka akan terlibat dalam pertukaran wacana pekerjaan.
e.       Sikap Terhadap Tenggat Waktu (Chronemic)
Contohnya, di Jepang tepat waktu adalah budaya yang mereka lakukan, apalagi ketika membuat janji dengan seseorang. Di Jepang biasanya jika membuat janji dengan orang lain datang paling lambat 5 menit sebelum waktunya, orang Jepang akan merasa malu jika mereka datang paling akhir walaupun tepat waktu. Ketidaktepatan waktu seseorang dalam membuat janji menyimbolkan berkurangnya kepercayaan orang itu kepada orang yang berjanji.
f.  Paralinguistik (Paralanguage)
Simbol paralinguistic ini dapat kita lihat dari intonasi dalam berbicara. Masyarakat  Jepang terbiasa tenang dalam menghadapi setiap hal. Budaya Jepang tidak terbiasa dengan suara yang terlalu keras dan lebih memilih untuk mengatur intonasi bicara mereka. Kebanyakan orang Jepang yang mempunyai status tinggi, akan berbicara dengan lebih pelan dan terbata-bata. Terbata-bata di sini dilakukan denggan memberi jeda pada setiap kalimat, yang menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa yang tenang dan tidak terburu-buru dalam mengatakan apa yang ingin mereka katakan, lebih tepatnya mereka sebagian besar berfikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Pada saat orang Jepang marah atau merasa terganggu, dia tidak akan menegur atau menunjukkannya secara langsung. Tidak hanya ketika berhubungan dengan orang asing, bahkan ketika berhubungan dengan sesama orang Jepang, mereka cenderung menahan diri dan bersikap kaku. Sehingga mereka sulit (atau menahan diri) untuk mengungkapkan apa yang sedang mereka rasakan, termasuk kemarahan dan ketidaksukaan.






DAFTAR REFERENSI

Andriani Lubis, Lusiana. 2012. Pemahaman Praktis Komunikasi Antar Budaya. Medan: USU Press.
Hertesa, Yulyanti. 2007. Munculnya NEET Sebagai Fenomena di Jepang. FIB UI: Jakarta.
Samover, Larry A dkk, (2010) Komunikasi Lintas Budaya Communication Between Cultures. Jakarta: Salemba Humanika
Tsunenari, Tokugawa and Akihiko Nakamura. 2007. The Way of the Samurai: Bushido as Character Education. Japan Echo.
Vogel, Ezra F. 1982. Jepang Jempol. Sinar Harapan: Jakarta.

Daftar Situs Internet:
http://eprints.uns.ac.id/6941/1/Unlock-d.pdf,  diakses 30 Oktober 2013 pukul 05.25 wib
harajuku/222311337813012 diakses 2 November 2013 pukul 13.26 wib http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jepang diakses 2 November 2013 pukul 10.13 wib
http://japantoday.com diakses 1/11/2013
http://www.02.246.ne.jp/~semar/agmbaru.html  diakses tanggal 30 Oktober 2013 pukul 22.25



2 komentar:

  1. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


    BalasHapus
  2. Hari ini saya ingin mengunkapkan tentang perjalanan hidup saya,karna masalah ekonomi saya selalu dililit hutang bahkan perusahaan yang dulunya saya pernah bagun kini semuanya akan disitah oleh pihak bank,saya sudah berusaha kesana kemari untuk mencari uang agar perusahaan saya tidak jadi disitah oleh pihak bank dan akhirnya saya nekat untuk mendatangi paranormal yang terkenal bahkan saya pernah mengikuti penggandaan uang dimaskanjeng dan itupun juga tidak ada hasil yang memuaskan dan saya hampir putus asa,,akhirnya ketidak segajaan saya mendengar cerita orang orang bahwa ada paranormal yang terkenal bisa mengeluarkan uang ghaib atau sejenisnya pesugihan putih yang namanya Mbah Rawa Gumpala,,,akhirnya saya mencoba menhubungi beliau dan alhamdulillah dengan senan hati beliau mau membantu saya untuk mengeluarkan pesugihan uang ghaibnya sebesar 10 M saya sangat bersyukur dan berterimakasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala berkat bantuannya semua masalah saya bisa teratasi dan semua hutang2 saya juga sudah pada lunas semua,,bagi anda yang ingin seperti saya dan ingin dibabtu sama Mbah silahkan hubungi 085 316 106 111 saya sengaja menulis pesan ini dan mempostin di semua tempat agar anda semua tau kalau ada paranormal yang bisah dipercaya dan bisa diandalkan,bagi teman teman yang menemukan situs ini tolong disebar luaskan agar orang orang juga bisa tau klau ada dukun sakti yg bisa membantuh mengatasi semua masalah anda1.untuk lebih lengkapnya buka saja blok Mbah karna didalam bloknya semuanya sudah dijelaskan PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

    BalasHapus