Sabtu, 26 April 2014

PKS PANTAS KALAH? ANALISIS RINGAN DARI OUT SIDER MERANGKAP INSIDER

Target PKS untuk memperoleh posisi tiga besar dalam pileg 2014 ini sepertinya hampir mustahil sudah. Kini mereka harus berjuang mempertahan suara umat yang sedang diproses penetapannya oleh KPU.

Ada beberapa alasan kenapa PKS wajar 'kalah' dapal pileg 2014 kali ini:

1. Aleg PKS kurang berkiprah di kantong-kantong suaranya
Pengalaman hasil pemilu 1999 yang menempatkan hanya 7 aleg PK di senayan serta kursi-kursi sedikit di DPRD tingkat 1 dan 2 memberikan kesempatan pada PK waktu itu untuk menunjukkan kontribusi maksimalnya sebagai partai Dakwah. Meski sedikit mereka terkenal sangat vokal. Media pada waktu sangat respek dengan fenomena aleg aleg PK yang beda dengan aleg parpol lainnya. Pada pemilu 2004 dimana PK tidak lolos ET maka PK berubah menjadi PKS dan perolehan suaranya meningkat 700%.

2. PKS kekuranga SDM dalam menjalankan roda organisasi
Peningkatan suara PKS pada pemilu 2004 sangat erat kaitannya dengan pengelola organisasi pada waktu itu. pengelola organisasi adalah mereka-mereka yang merupaka kader terbaik partai. Naiknya perolehan kursi PKS membuat mereka harus turun ke legislatif dan membuat mereka absen dalam menjalankan aktivitas organisasi. Ingat, PKS tidak membolehkan aleg ikut mengurusi partai. Hal menyebabkan Pengelolaan organisasi yang tidak maksimal dari tingkat pusat hingga daerah karena orang terbaiknya menjadi anggota legislatif. Hal ini pun berulang dengan capaian kursi pemilu 2009 yang makin meningkat. Langkah tidak cerdas DPP PKS adalah menjadikan aleg sebagai presiden dan sekjen partai. INGAT: Posisi Presiden dan Sekjen akan sangat 'seksi' bila terkena kasus kriminal. 

3. Pengaruh kasus LHI 
Ternyata sangat 'seksi' menjadikan PKS bulan-bulanan media ketika LHI menjadi tersangka kasus kuota impor pengadaan daging sapi. Citra PKS dihabisi oleh media-media besar perwakilan parpol dan antek-antek Amerika, tag line khusus dibuat. Hari-hari berikutnya dipenuhi pembully-an terhadap PKS dan kader-kadernya serta sindiran-sindiran halus (seperti poligami, perselingkuhan, korupsi, ) maksud dan tujuannya adalah PKS atau kader PKS. Bahkan image dai, ustadz, dai, haji, dan kyai juga ikut dinodai dalam tanyangan infotaiment dan sinetron yang ada dilayar televisi, menggunakan simbol-simbol Islam dan polesan bahasa dakwah yang biasa dilakukan oleh kader PKS selama ini.

4. Suara PKS ditimpa money politik
Paska penetapan LHI menjadi tersangka dan Anis Matta dinobatkan menjadi Presiden PKS, maka maskot PKS Bersih, Peduli dan Profesional pun berubah menjadi Cinta, Kerja dan Harmoni. Ditambah lagi dengan Tag line #AYKTM Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani. Namun tag line #AYKTM ini kurang ternyata kurang bisa mendongkrak suara PKS, suara PKS berkurang dibasis PKS daerah perkotaan namun setidaknya membuat PKS bertahan daerah dan menyebar didaerah yang tadinya tidak ada kursi PKS (sebuah fenomena yang wajib disyukuri dan perlu dikaji).
Namun kecenderungan masyarakat lebih memilih menjual suaranya ketimbang memberikannya secara gratis. Tak heran bila sebagian caleg ajdi adalah mereka yan tidak massif berkampanye, dan tidak punya baleho, namun mereka mempersiapkan uang untuk membeli suara masyarakat. Hal ini pula yang terjadi disebagain kantong suara PKS yang sebelumnya sudah 'terclosing' untuk memilih PKS, slogan 
#AYKTM membuat masyarakat semakin mantap meninggalkan PKS, mengingat PKS akan tetap menolong mereka, ambulance PKS akan tetap dapat dipakai, dan pengajian juga akan tetap di cover kader-kader PKS.

5. PKS tidak membeli suara rakyat (money politik)
Haramnya suap sudah menjadi jumhur ulama dan jelas keharamannya, namun bagaimana dengan jual-beli suara? BUkankah hukum asal jual-beli adalah mubah (boleh)? Kedepan, mengingat sikap pragmatis dan apatisme masyarakat terhadap para aleg yang dibuktikan dengan memilih menjual suara, maka langkah serupa sepertinya perlu dilakukan kajian, mengingat parpol Islam lainnya juga melalukan.

6. PKS diboikot Media

Ketakutan akan menjadi besarnya PKS membuat media mainstream yang umumnya berbasis (dimiliki pimpinan) parpol cenderung memboikot aksi-aksi sosial PKS, dan lebih memilih menampilkan hal-hal buruk yang menimpa PKS saja seperti kasus LHI. Sangat tidak fair.

7. Poligami
Masalah Poligami yang dilakukan oleh beberapa petinggi PKS juga sengaja dijadikan black campaign sebagian musuh-musuh PKS. Poligami dijadikan momok, bahkan dilekatkan sebagai faktor utama terjadinya korupsi.

Tapi walau bagaimana pun PKS akan tetap dikhawatirkan mengingat hanya PKS yang memiliki sistem penkaderan yang rapi dan jelas. Bahkan prediksi PKS bersama beberapa parpol Islam lainnnya tidak akan lolos ET juga ternyata hanya terbukti isapan jempol belaka.
Rakyat menunggu #gelombang ke-3 PKS.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar