Rabu, 26 Februari 2014

ELEKTABILITAS JOKOWI TERJUN BEBAS DAN DIBOIKOT MEDIA

Kritik terhadap kegagalan pemprov DKI makin bersuara lantang, media menghentikan pencitraan 'lebay' yang biasa dilakukan terhadap gubernur Jakarta Joko Widodo. Para Jasmev bin Projo/Pro Jokowi (pendukung bayaran di sosial media ) tidak kuasa menahan serbuan kritik terhadap Jokowi, mereka yang selama ini mem-bully para pengkritik Jokowi seakan kena batunya.

Banjir yang tiada henti-hentinya melanda Jakarta dalam sebulan terakhir, membuka mata bahwa prestasi Jokowi selama ini adalah pencitraan semu. Jokowi gagal memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, bukan hanya kegagalan mengurangi dampak hujan dan banjir kiriman, namun juga gagal dalam melakukan pelebaran dan pendalaman beberapa sungai di Jakarta, gagal menangani penumpukan sampah yang menghalangi kelancaran lalu lintas air, gagal menangani masalah pengungsian. Efek ini terlihat jelas dalam publikasi survey LSN beberapa hari terakhir bahwa 71,2 % masyarakat Jakarta tidak setuju Jokowi mencalonkan diri sebagai Presiden pada pilpres 2014.

Satu demi satu pencitraan Jokowi terbuka terang benderang dalam pandangan publik, apalagi semenjak beberapa pemimpin daerah penyangga Jakarta (Bogor, Bekasi dan Depok) bersama-sama mendatangi salah satu TV swasta nasional dan membeberkan apa yang sebenarnya terjadi, kesimpulannya pemerintahan Jokowi tak pernah silaturrahim ke tetangganya, hanya pandai menuding pada tetangga. Media Web yang biasa mencitrakan positif Jokowi pun beralih haluan. 
Rasain lhoe... kata yang biasa di bully jasmev bin projo.


Memang aneh sih kalau ada berita baik selalu diberitakan berulang-ulang dan terkesan lebay, karena rumusnya dalam pemberitaan adalah BAD NEWS is A Good News (BERITA BURUK adalah Berita Baik), karena bagi media berita buruklah yang laku dijual, maka agar berita baik naik tayang umumnya harus bayar donk, utama kalau sering-sering, kecuali memang karena sudah menjadi agenda publik maka wajib bagi media memberitakannya.



Maka akibatnya... media cenderung memburu berita buruk dan melupakan berita baek. Lihat saja di media cetak dan elektronik, berita buruk ratingnya tinggi.



Akhirnya  media tidak mampu lagi menutup-nutupi kelemahan pemprov DKI yang Jokowi telah memimpinnya sekita 1 Tahun 6 bulan ini, masa yang sangat cukup untuk membersihkan, mendalamkan sungai-sungai tersumbat dan parit-parit yang tertumpuk sampah, serta memberikan solusi kemacetan. Namun gagal dilaksanakan karena kebanyakan blusukan tanpa arti.

Jika dibandingkan tokoh lainnya, show-an dan blusukan yang dilakukan jokowi blom ada apa-apanya,
Foto Hari Indrawan Part II.

Foto Hari Indrawan Part II.

Foto Hari Indrawan Part II.

Foto Hari Indrawan Part II.

Namun karena kekuatan uang dalam mengatur pemberitaan maka jangan heran, pemberitaan jokowi melejit, maklum banyak media maju tak gentar membela yang bayar.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar