Kamis, 16 Januari 2014

PENGIKUT EKSTRIM JOKOWI JADI HAMA DEMOKRASI

Akhirnya Semua Tahu, Blusukan Jokowi Tidak Mampu Selesaikan Masalah Banjir: Permasalahan banjir di Ibu Kota Jakarta tidak cukup diselesaikan dengan blusukan ala Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Pendapat itu disampaikan pengamat ekonomi, yang juga rival Jokowi saat Pilgub DKI Jakarta, Didik J Rachbini. 
Idealnya, pemimpin bukan hanya mampu melakukan blusukan, apalagi motifnya politis. Lebih dari itu seharusnya ada pemetaan strategis yang didukung dengan rancangan, dan penganggaran bagi terlaksananya kebijakan berikutnya. Anehnya, Ketidak berdayaan pemerintahan jokowi-ahok ini mendapatkan pembelaan kuat dari para pendukungnya dan sosial media. Pembelaan yang terkesan: maju tak gentar membela yang bayar. Upaya Counter Attack jokowi bukan tanggung-tanggung dan terkadang cenderung 'sadis' langsung memblock atau melaporkan secara beramai kepada pemilik facebook misalnya.

Didik juga mengecam para pendukung Jokowi, khususnya di social media yang membela Jokowi secara membabi buta. Didik menyebut para pengikut ekstrim Jokowi sebagai “hama demokrasi”.

“Kenaifan pengikut ekstrim seperti ini melihat kritik sebagai dendam. (ingat pengikut ekstrim, hama demokrasi),“ tegas Didik melalui akun Twitter @DJRachbini, mengomentari kicauan-kicauan akun @Palguna76.

Sebelumnya, Didik sudah merilis hasil survei terkait tingkat kepuasan warga Jakarta kepada Gubernur DKI Jakarta. Di mana, warga Jakarta tidak puas terhadap dua hal, yakni kemacetan dan banjir. Masyarakat merasa puas untuk bidang pendidikan, kesehatan dan lainnya.

“Kritik berdasarkan survei ilmiah sudah saya release, ini diulang di twiterland. Tapi saya tahu yg menyerang seperti semut, anti kritik sudah berkurang,” tulis @DJRachbini.

Secara khusus, Didik menyebutkan bahwa Gubernur DKI sebelum Jokowi, Fauzi Bowo (Foke) bersama-sama dengan Jusuf Kalla dan DPR RI berhasil membangun Banjir Kanal Timur (BKT) sepanjang 23 kilometer. “Harap tahu, Foke+JK (+DPR RI) berhasil membangun BKT penahan banjir 23 kilometer, mengurangi banyak titik banjir. Skrg mesti lebih,” kicau @DJRachbini.

INi seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pengikut, dan simpatisan Jokowi yang selalu menganggap semua usaha pemprov DKI sudah maksimal. Andai saja upaya pengerukan sungai-sungai, pembersihan parit dan penanggulangan sampah dioptimalkan, logika ilmiah memastikan bahwa banjir tidak akan separah 3-4 hari kemarin.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar