Jumat, 31 Januari 2014

AGENDA MEDIA DALAM PENAHANAN ANAS URBANINGRUM

Maxwell McCombs dan Donald Shawn (dalam Onong, 2007: 287) menyatakan bahwa, jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting.
ñ     Kasus pembangunan Sport Center di Hambalang yang melibatkan Anas Urbaningrum (AU) Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, sebenaranya AU sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK sejak 22 Februari 2013. Namun baru dilakukan penahanan resmi oleh KPK pada tanggal 10 Januari 2014 lalu. Kasus ini bermula dari ‘nyanyian’ Nazaruddin yang tertangkap di kota pantai Cartagenam Kolumbia setelah sebelumnya buron pada 7 Agustus 2011. Dalam ‘nyanyian’nya Nazaruddin mengungkap keterlibatan beberapa nama petinggi Partai Demokrat, inilah pintu masuk yang menyebabkan beberapa petinggi Partai Demokrat disidik oleh KPK dan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan sebagiannya telah terbukti bersalah berdasarkan keputusan pengadilan Tipikor. Dan nama AU termasuk salah yang disebut-sebut oleh Nazaruddin.
ñ     Penanganan Kasus Hambalang oleh KPK yang terbilang lamban, membuat sebagian masyarakat sudah hampir melupakan kasus ini, selain dikarenakan munculnya kasus-kasus korupsi yang lainnya. Namun peranan media dalam memberitakan kasus Hambalang ini, membuat kasus ini tetap menjadi konsumsi berita yang tetap ditunggu-tunggu oleh pemirsa. Media berhasil melakukan agenda setting sehingga kasus Hambalang ini tetap menjadi perhatian masyarakat. Setiap momen-momen penetapan sebagai tersangka, penangkapan, penahanan, persidangan hingga putusan pengadilan aktor-aktor terkait kasus ini selalu dijadikan headline dan di blow up dalam setiap pemberitaan. Begitu halnya dengan nama Anas Urbaningrum, keterlibatan AU yang awalnya disebut-sebut oleh Nazaruddin mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, membuat nama AU selalu dikaitkan dalam setiap pemberitaan, dan pemberitaan kasus Hambalang ini menjadi terkesan sangat penting menyangkut posisi Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, yang merupakan parpol penguasa (the rulling party).
ñ      ‘Pemanasan’ politik menjelang pemilu 2014 telah terlihat dimulai sejak 2012 lalu. Media-media berita mainsteam yang kepemilikannya dikuasai oleh konglomerasi berbasis partai politik membuat setiap berita terkait korupsi yang melibatkan elit-elit politik diekpose, disetting, dan diframing sehingga menjadi headline, dan ini juga terjadi pada Anas Urbaningrum. Dengan harapan mereka mendapatkan limpahan suara dari merosotnya pamor dan elektabilitas Partai Demokrat.
ñ     Posisi Anas sebagai mantan Ketua Umum Partai Demokrat, parpol dengan raihan suara terbesar sekaligus merupakan parpol penguasa (the rulling party), semakin membuat berita tentang AU ini menjadi berita penting dalam pandangan media (yang dikuasai oleh konglomerasi berbasis parpol yang juga akan berkompetisi dalam pemilu 2014 dan ingin berkuasa) dan menjadikannya sebagai berita yang layak untuk ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
 
Menurut Hall, media adalah instrumen kekuasaan kelompok elite, dan media berfungsi menyampaikan pemikiran kelompok yang mendominasi masyarakat, terlepas apakah pemikiran itu efektif atau tidak. Studi cultural menekankan pada gagasan bahwa media menjaga kelompok berkuasa untuk tetap memegang kontrol atas masyarakat sementara mereka yang kurang berkuasa menerima apa saja yang disisakan kepada mereka oleh kelompok berkuasa (Morissan, 2013: 535).
Dalam sistem penyiaran yang semakin liberal, kontrol terhadap media penyiaran ada di tangan para pemilik modal. Dunia penyiaran Indonesia dan penyiaran dunia sekarang ini secara keseluruhan terpengaruh oleh iklim media penyiaran (Mufid, 2007: 24).
 


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar